06 Februari 2013

TUHAN SUKA MAKANAN YANG ENAK-ENAK


Bukan suatu yang aneh jika di Bali kita hamper setiap hari menyaksikan umat Hindu membawa sajen ke Pura penuh dengan buah dan makanan yang lezat. Bagi orang non-Hindu utamanya yang bukan orang kelahiran Bali atau tumben datang ke Bali tentu  berpikir apakah Tuhan umat Hindu seperti manusia, suka makan yang enak-enak. Demikian pula jika melihat  Pura (tempat sembahyangnya Umat Hindu) dihias dan diukir demikian indahnya, mungkin mereka berpikir, Tuhan umat Hindu suka dengan seni, dan suka pula menonton tari-tarian. 

 
Menanggapi pertanyaan atau pernyataan seperti itu dapat kita jelaskan bahwa secara philosofis  Tuhan itu maha besar, maha kuasa. Beliau mengadakan semua makanan dan Beliau menciptakan semua keindahan. Beliau tidak akan kelaparan jika kita tidak mempersembahkan sajen. Apakah artinya persembahan kita yang sekecil ini di mata Tuhan, sedangkan Beliau memiliki alam semesta ini semua. Tuhan tidak memerlukan semua ini, hanya manusialah yang menganggap ini perlu, semua sajen dan kesenian ini hanyalah sebagai alat untuk mewujudkan rasa bhakti atau cintanya kepada Tuhan.
Dalam hati orang yang saling mencintai, ingin dia memberikan segala apa yang dia miliki, bahkan jiwanyapun sedia dikorbankan demi untuk yang dicinta. Seperti seorang Ibu yang mencintai bayinya yang berumur tiga bulan. Si Ibu membuatkan kalung emas untuk bayinya ini, padahal si bayi tidak pernah meminta, bahkan tidak mengerti apa arti dari kalung dan baju yang bagus itu. Sama halnya jika seorang pemuda jatuh cinta pada kekasihnya, sampai ketingkat madness (tergila-gila) maka bantal gulingpun dipeluknya erat-erat diumpamakan kekasihnya. Dia ingin menggambarkan kekasihnya itu dengan sajak-sajak yang penuh dengan perumpamaan seperti misalnya: matanya seperti bintang timur, mukanya seperti bulan purnama, bibirnya seperti delima merekah, dan sebagainya. Kalau kita pikirkan dengan tenang, jika ada orang yang matanya seperti bintang timur dan mukanya bulat seperti bulan purnama, barangkali tidak bisa kita menyebutkan orang yang sedemikian cantik itu. Semua itu adalah sekedar simbol, ekspresi dari perasaan cinta.
Demikian pula dengan umat Hindu yang tergila-gila ingin menggambarkan Tuhannya dengan membuat patung sebagai realisasi perasaan cintanya, dihias dan dipuja, dan tidak pernah terpikirkan dalam hatinya bahwa patung itu adalah sebuah kayu yang diukir.
Barangkali tidak ada bedanya dengan upacara bendera dimana tidak pernah terpikirkan dalam hati kita, bahwa yang kita hormati dengan tegak dan khidmat hanyalah secarik kain yang dijahit menjadi sebuah bendera. Tuhan yang abstrak sulit dimengerti oleh orang awam, seperti halnya anak murid kelas nol kecil, jika diajar ilmu berhitung ia tidak dapat membayangkan berapa tiga ditambah tiga, karena pengertian tiga itu adalah sesuatu yang abstrak, maka Ibu Guru terpaksa menggambarkan bulatan yang berbentuk telur di papan sebanyak tiga tambah tiga, seraya menanyakan pada anak-anak: “Ini gambar apa anak-anak?”.  “Telur”, jawab anak-anak. ”Berapa jumlahnya anak-anak?”, tanya Ibu Guru. Maka anak-anakpun menghitung bulatan-bulatan yang ada di papan yang dianggapnya telur itu dan mereka dapat menjawabnya dengan tepat.
Jika pada waktu itu ada seorang mahasiswa melihat Ibu Guru mengajar dengan cara yang demikian, maka si mahasiswa itu bisa saja menegur Bu Guru dengan kata-kata yang menyalahkan: “Bu Guru jangan diajarkan anak-anak berbohong, yang Ibu tulis di papan itu bukan telur, melainkan kapur, mengapa Bu Guru katakan pada anak-anak bahwa itu telur?”. Dengan cara itu apakah Bu Guru telah berbuat salah atau berbohong? Tentu tidak bukan?

Bagi anak-anak yang belum bisa membayangkan sesuatu yang abstrak itu perlu visualisasi (peragaan), dan contoh itu tidak mesti harus tepat, demikian pula orang awam sulit mebayangkan Tuhan itu ada karena matanya tidak pernah melihat. Mereka juga tidak pernah mengerti kalau Tuhan tidak berbentuk, mengapa dibuatkan Vihara atau Pura. Tuhan tidak perlu rumah dan tidak perlu tempat.
Demikianlah sebenarnya yang terjadi. Apa yang dilakukan oleh umat Hindu dalam menghayati Tuhan-nya adalah seperti perumpamaan-perumpamaan diatas. Tidak ada sesuatu yang aneh, semua logis dan bisa dipertanggungjawabkan. Semoga bisa dimengerti sehingga tidak ada lagi kata-kata sinis yang keluar dari ketidak mengertian mereka. Namun, kalau toh masih ada kata-kata semacam itu, “Mari Mencoba Mencoba Mengerti Ketidak Mengertian Mereka”.

Tidak ada komentar: