18 Januari 2010

NGATURANG BAKTI RING PURA LEMPUYANG

Sering aku mendengar bahwa seorang keturunan Pasek wajib hukumnya untuk tangkil sembahyang ke Pura Lempuyang. Dan untuk bisa tangkil sembahyang ke Pura Lempuyang tantangannya sangat berat karena harus melalui jalanan terjal dan mendaki sehingga berbagai mitos terkait perjalanan ke Pura Lempuyang Luhur beredar dari mulut ke mulut. Banyak orang yang dengan bangganya bercerita bisa tangkil dan sembahyang ke Pura Lempuyang, tidak hanya sekali bahkan sering kali tangkil ke sana. Semua itu membuatku semakin kepingin untuk tangkil sembahyang ke Pura Lempuyang Luhur bersama keluargaku.


Rencana tersebut aku persiapkan matang sekali. Lahir dan batin aku persiapkan untuk rencanaku yang satu ini. Secara fisik aku persiapkan dengan berolah raga jogging setiap sore. Secara financial juga aku alokasikan secukupnya baik untuk kendaraannya, makannya maupun untuk aturannya (Daksina) demikian juga kesiapan batin, betul –betul aku jaga. Namun rencana adalah tinggal rencana. Jalan tidaknya rencanaku ini semua ditentukan yang diatas sana (Ida Sanghyang Widhi Wasa). Begitu matangnya persiapanku dan keluargaku dibulan Agustus 2009 ternyata kandas. Tuhan belum merestui aku tangkil sembahyang ke Pura Lempuyang. Salah seorang dari keluarga besarku ada yang meninggal dunia sehingga kami semua kesebelan. Demikian juga dengan rencanaku di bulan Oktober 2009 juga kandas karena hal yang sama.
Menjelang berakhirnya tahun 2009 aku bertekad impianku tangkil ke Pura Lempuyang luhur harus berhasil dan ditetapkanlah tanggal Jum’at, 18 Desember 2009 (libur Tahun Baru Hijriah) untuk melaksanakan niatku ini. Hari ke hari menjelang hari H aku berdoa semoga tidak ada lagi aral merintangi niat kami tangkil ke Pura Lempuyang Luhur. Aku dan Istriku, Pak Man dan Man Su, Pak Mangku Jember dan Mangku Karba dan satu lagi iparku Pak Nyoman Locong siap untuk bertirta yatra. Dibulan Desember 2009 menjelang Setelah kegagalan yang kedua kali ini aku betul betul Rencanaku ini ternyata kandas karena kesebelan (ada anggota keluarga besar yang meninggal) meskipun melalui perjalanan yang melelahkan.
Ibarat seorang yang lagi ngidam, aku begitu kepingin untuk tangkil ke Pura Lempuyang. Sudah dua kali rencanaku untuk tangkil ke Pura Lempuyang gagal karena masalah cuntaka (ada salah seorang anggota keluarga besar yang meninggal dunia) dan tanggal 18 Desember 2009 aku rencanakan kembali untuk bisa tangkil bersama istri, paman, bibi dan mangku keluarga ke pura Lempuyang. Setiap saat aku berdoa semoga untuk kali ini aku direstui untuk ke Pura Lempuyang sehingga tidak ada aral yang merintangi rencana ku ini. Dana aku alokasikan untuk kesana, banten sudah dibagi sehingga nantinya disetiap pelinggih yang didatangi kita bisa ngaturang Daksina atau canang gantal. Dalam hal kendaraan untuk keberangkatan aku mencoba meminjam pada salah seorang anggota DPRD namun sayangnya katanya tidak bisa. Meskipun aku kecewa aku berusaha untuk menerima kenyataan ini karena masih ada kemungkinan aku mendapatkan kendaraan di Mertua. Tetapi lagi-lagi aku kecewa karena karena mertuaku katanya juga mau tangkil ke Pura Tirta Empul Tampak siring untuk melukat. Ya… setiap kali aku hendak meminjam mobil mertuaku selalu saja tidak kebagian tetapi alangkah tidak berimbangnya ketika untuk keperluan mertuaku aku diminta selalu siap dengan fasilitas yang diinginkannya. Aku kecewa atas sikap mertuaku ini. Meskipun begitu aku sudah mantap untuk ke pura Lempuyang dan kendaraan cadangan yang akan aku gunakan adalah kendaraan dinas KPPT DK 1011 W yang aku bawa selama ini. Aku yakin kendaraan ini mampu mengantarkan kami ketempat tujuan dengan selamat meskipun mungkin agak kurang nyaman bagi pengendaranya.
Sehari menjelang kepergian kami untuk tangkil ke Pura Lempuyang godaanpun datang padaku. Aku selalu merasa kepingin marah dan dongkol. Namun semua itu sedikit terobati karena tiba-tiba temanku anggota DPRD tersebut menelponku menanyakan apakah aku sudah dapat kendaraan untuk ke Pura Lempuyang dan dia menyarankan agar aku mengambilnya nanti sore setibanya dia dari Bandara Ngurah Rai Denpasar.
Jum’at, 18 Desember 2009, jam 04.00 Wita aku dan istriku sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Pura Lempuyang. Jam 05.00 Wita rencananya kami harus sudah berangkat dari rumah menuju sasaran yang telah ditetapkan. Namun sedikit melenceng karena Pak Mangku Karba dari sawe terlambat datang sehingga jam 05.30 Wita kami baru berangkat dari rumah. Di Persimpangan Pura Rambut Siwi kami sembahyang bersama mohon keselamatan dan apa yang menjadi tujuan kami ini bisa terlaksana dengan aman dan selamat. Jam 08.30 Wita, kami tiba di Dalung untuk menjemput iparku Nyoman Ardika Locong. Jam 10.00 Wita kami tiba di parkir Pura Lempuyang dan langsung disambut dengan turunnya hujan. Kami istirahat di dalam mobil dan diluar sudah menanti orang-orang yang menawarkan jasa untuk mengangkut banten yang kami bawa. Kepada orang tersebut sudah kami sarankan untuk berteduh dulu, namun mereka tetap berada didekat mobil kami membuat kami merasa tidak enak atas tekadnya yang dengan sabar menanti keputusan kami untuk menggunakan tenaganya atau tidak. Karena hari sudah siang dan sepertinya hujan tidak akan berhenti, maka kami putuskan untuk jalan menerobos guyuran hujan dan orang yang menawarkan jasa akan membantu membawakan barang-barang bawaan kami untuk bersembahyang kembali menawarkan diri untuk mencarikan payung yang biasanya dijual oleh pedagang-pedagang yang ada disekitar areal parker. Dan setelah mendapatkan payung kami pun akhirnya melanjutkan misi tirta yatra ini.
Dalam guyuran hujan kami mulai menapaki jalan menuju Pura Penataran Lempuyang. Ketika aku pandangi Kori Pura Penataran ini persis seperti foto yang aku dapatkan di Internet. Ternyata foto yang di internet itu bukan foto Pura Lempuyang Luhur melainkan Kori Pura Penataran Lempuyang. Dalam situasi hujan turun kami sembahyang mohon keselamatan dan tuntunan sehingga cita-cita kami untuk sembahyang ke Pura Lempuyang Luhur tercapai dengan selamat. Persembahyangan diantarkan oleh mangku Pura Penataran. Setelah melakukan pemuspaan dan nunas wangsuh pada Ida Betara di Pura Penataran, perjalanan kami lanjutkan menuju Pura Telaga Mas. Penduduk yang membantu kami membawakan aturan dengan setia mendampingi kami dan sesekali memberikan informasi terkait dengan lokasi-lokasi pura yang nantinya akan kami tuju. Hujan masih turun meski tidak sederas yang tadi. Kami ber-empat (yang laki-laki) jalan kaki menuju Pura Telaga Mas, sementara Man Su dan istriku naik ojek. Jalan menuju Pura Telaga Mas sudah beraspal sehingga memungkinkan kendaraan (baik motor maupun mobil ) untuk sampai disana. Jaraknya tidak begitu jauh dan kalau naik ojek cukup bayar lima ribu rupiah.
Sesampai di Pura Telaga Mas cuaca sudah sedikit bersahabat. Matahari sudah menampakan diri. Kami merasa heran ternyata banyak pemedek mulai berdatangan. Kami bersembahyang bersama-sama pemedek yang lainnya dipandu pemangku Pura Telaga Mas. Setelah mendapatkan wangsuh pada Ida Betara di Pura Telaga Mas, kami pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Pura Telaga Sawang.
Kali ini perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak boleh naik ojek karena jalannya memang harus menapaki anak-anak tangga. Pada awal perjalanan kami masih punya niat untuk menghitung berapa banyak anak tangga yang akan kami lalui sampai ditempat tujuan. Tetapi setelah sampai pada anak tangga ke 200 kami pun melupakannya. Ya..mungkin karena mulai terasa juga perjalanan ini melelahkan sehingga tidak konsen lagi untuk menghitungnya. Sepanjang perjalanan menuju Pura Telaga Sawang hujan kembali mengguyur. Namun sesampai di lokasi Pura Telaga Sawang, cuaca kembali bersahabat. Matahari mulai memancarkan kehangatan. dan kamipun sembahyang bersama dipandu oleh Pemangku Pura Telaga Sawang. Setelah mendapatkan wangsuh pada Ida Betara di Pura Telaga Sawang perjalanan dilanjutkan menuju Pura Lempuyang Madya yang berada (boleh dikata bersebelahan) tidak jauh dari Pura Telaga Sawang. Mungkin karena sudah berada ditengah hutan, di Pura Lempuyang Madya banyak terdapat binatang kera yang sekali waktu turun dan mengganggu sesaji yang kita haturkan sehingga ada pemangku yang tidak sedang bertugas harus membantu mengusir kera-kera tersebut.
Pura Lempuyang Madya sepertinya sedang dalam proses renopasi sehingga disana-sini masih kelihatan bahan-bahan bangunan yang siap digarap untuk membangun pasilitas pura yang belum tersedia seperti wantilan dan pesraman pemangku. Untuk bangunan di utama mandala sepertinya baru selesai pemugarannya dan kelihatan masih baru. Dari Pura Lempuyang Madya kita dapat melihat pemandangan yang begitu bagus berupa gunung dan hamparan desa nun jauh dibawah sana.
Di Pura Lempuyang Madya kami sembahyang bersama dengan pemedek lainnya dipandu Pemangku Pura Lempuyang Madya. Setelah mendapatkan wangsuhpada Ida Betara di Pura Lempuyang Madya perjalan kami lanjutkan menuju Pura Puncak Bisbis.
Entah karena lupa atau saking semangatnya, aku sampai lupa melihat jam tangan untuk mengetahui waktu dan anehnya lagi kami semua tidak kepikiran untuk makan siang. Dengan penuh semangat kami langsung melanjutkan perjalanan setelah selesai mendapatkan wangsuhpada Ida Batara.
Jalan Menuju Pura Puncak Bisbis betul-betul alami tidak ada anak tangga seperti sebelumnyua. Perlahan tapi pasti kami menapakinya dan dibeberapa tempat kami sempat istirahat karena kelelahan. Pemedek yang masih muda-muda (sepertinya dari unsure muda-mudi) mereka saling susul menyusul. Pemedek yang tua-tua dengan pelan-pelan melangkah dan akhirnya sampai juga di Pura Puncak Bisbis.
Pura Puncak bisbis kami lewati untuk selanjutnya menuju Pura Pasar Agung. Pelan-pelan kami menapaki jalanan yang mendaki dan licin setelah diguyur hujan lebat dari pagi tadi dan tidak beberapa lama kami sudah disusul oleh pemedek lainnya yang muda-muda dan tadinya bersembahyang di Pura Puncak Bisbis.
Meskipun kami sering beristirahat karena kelelahan kami ber-tujuh akhirnya tiba juga di Pura Pasar Agung dengan selamat. Tanpa berhenti untuk istirahat kembali kami bersembahyang setelah meletakkan aturan/banten di Pelinggih Pura Pasar Agung. Sebagaimana di Pura Lempuyang Madya, di sekitar Pura Pasar Agung juga banyak terdapat kera. Entah sudah menjadi kebiasaan dari kera-kera tersebut atau karena kelaparan, kera-kera tersebut usil juga dengan mencoba mengambil jajan/buah-buahan yang menjadi aturan/pepranian yang dibawa pemedek. Saat kami sembahyang hujan kembali mengguyur kami. Namun semua itu tidak menyurutkan semangat kami untuk sembahyang dan melanjutkan perjalanan sampai di Pura Lempuyang Luhur.
Setelah mendapatkan wangsuhpada dari Ida Betara di Pura Pasar Agung dan dibawah guyuran hujan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pura Lempuyang Luhur. Hawa pegunungan kian terasa dingin terlebih dengan turunnya hujan sehingga membuat suasana disekitar menjadi diselimuti sayong (kabut). Semangat kami kian membara mengingat kami sudah melewati Pura Pasar Agung yang merupakan Pura terakhir yang mesti kami lalui sebelum akhirnya kami akan tiba di Pura Lempuyang Luhur. Kami sangat gembira ketika dikejauhan sudah kelihatan Prasasti yang menunjukan keberadaan Pura Lempuyang Luhur. Dan betapa senang hati kami ketika kami menapaki pelataran Pura Lempuyang Luhur yang selama ini kami idam-idamkan. Tiba-tiba aku teringat pada almarhum Bapak-ku dan Mayan Wenten. Batinku merasakan almarhum Bapakku dan Mayan Wenten sepertinya mendampingi kami tangkil ke Pura Lempuyang Luhur, Pura yang merupakan peninggalan Leluhur Trah Pasek.
Pak Mangku Jember dengan dibantu Man Su dan Istriku menghaturkan banten yang sudah kami siapkan dari rumah. Sambil menunggu pelaksanaan persembahyangan, aku sempat melihat-lihat situasi diseputar pura dimana ada pohon bamboo dengan Pura Tirta Bambunya dan terasa sekali kami berada dipuncak sebuah gunung.
Kami bersembahyang bersama dengan pemedek lainnya dan nunas wangsuhpada Ida Betara di Pura Lempuyang Luhur. Setelah bersembahyang kami bersama berusaha mengabadikan momen tirta yatra kami dengan kamera hp yang kami bawa. Setelah dirasa cukup, kami akhirnya pamitan dan meninggalkan Pura Lempuyang Luhur.
Jalan menurun bukan berarti perjalanan makin mudah. Justru malah sebaliknya, terasa sekali kami harus berhati-hati mengingat jalanan yang licin dan terasa sudah letih. Saat turun ini pun kami sempat istirahat di beberapa lokasi untuk melepas lelah. Entah berapa lama sudah kami menumpuh perjalanan ini akhirnya kami tiba di pura Telaga Mas. Di Areal parkir sudah menanti para tukang ojek. Karena hari sudah mulai sore kami sepakat untuk kembali ke parkir mobil dengan naik ojek. Di sini kami istirahat sambil makan prasadam yang kami bawa. Senang tiada terkira. Kami akhirnya bisa tangkil ke Pura Lempuyang Luhur bersama orang tua – orang tua keluarga kami. Kepada dua orang pemberi jasa pengangkut banten kami ucapkan terima kasih dan kami beri uang lelah Rp. 150.000,- untuk berdua.
Kurang lebih jam 18.30 Wita kami akhirnya kembali menuju Denpasar.
Jam 20.00 Wita kami istirahat dan mandi di Dalung (rumah Mbok Dek Bu).
Jam 21.00 Wita kami kembali ke Negara dan tiba di Rumah jam 23.00 Wita.
Namaste

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Om Swastiastu saya ingin bertanya..orang yg menawarkan untuk mengangkut banten itu mengikuti sampai akhir perjalanan atau hanya sampai di pintu masuk pura? Mohon infonya terimakasih