18 September 2010

Kisah Tukang Sepatu dengan Seorang Adipati

Tersebutlah seorang Tukang sepatu yang hidupnya bersahaja. Keseharian Tukang Sepatu bekerja Ngesol sepatu dengan riang gembira tanpa sedikitpun beban hidup terpancar dari raut wajahnya. Sambil bekerja dia senantiasa bisa bersenandung lagu-lagu kegemarannya meskipun mungkin fals, tidak semerdu suara artis aslinya. Hal ini menarik perhatian seorang Adipati yang setiap harinya melakukan kegiatan Turba (Turun ke Bawah) untuk menyerap aspirasi warga Kadipaten yang dipimpinnya. Sang Adipati dalam hatinya membandingkan dirinya dengan Tukang Sepatu tersebut. “Mengapa dirinya tidak sebahagia Tukang Sepatu yang dilihatnya, bekerja tanpa beban dan selalu riang gembira. Keseharian Adipati disibukan dengan aneka tugas pemerintahan dengan berbagai permasalahannya. Materi yang didapatkannyapun tentunya sudah lebih dari cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya. Namun Sang Adipati sepertinya tidak pernah merasakan menikmati materi yang didapatkan maupun yang sudah dimilikinya sebagaimana yang dirasakan Tukang Sepatu. Karena itu suatu hari sang Adipati menghampiri Tukang Sepatu dan terjadilah dialog kecil sebagai berikut :
Adipati : Tukang Sepatu, setiap hari aku lewat disini, aku selalu melihatmu bekerja dengan tekun seakan tidak pernah ada masalah hidup yang kau alami. Bahkan aku melihatmu dengan kesibukanmu meng-sol sepatu, selalu menyenandungkan lagu-lagu kegemaranmu.
Tukang Sepatu : Ampun Tuan Adipati, keterampilan yang saya miliki cuma sebagai tukang sepatu, jadi Saya harus menyukai dan menikmati pekerjaan saya ini.
Adipati : Berapa penghasilanmu sehari ?
Tukang Sepatu : Cuma lima puluh ribu rupiah tuan Adipati, kadang kalau lagi sepi malah kurang dari itu.
Adipati : Apakah mencukupi untuk keperluan hidup sehari-hari.
Tukang Sepati : Kalau dibilang cukup sih tidak, tapi mau gimana lagi orang kemampuan saya Cuma segini, berapapun yang saya dapatkan dalam sehari saya terima apa adanya dan mensyukurinya atas apa yang saya dapatkan tuan Adipati.
Adipati terkesan akan jawaban Tukang Sepatu dan sebagai bentuk kepedulian Sang Adipati kepada masyarakatnya Sang Adipati akhirnya memberi hadiah Rp. 5 juta dengan maksud untuk menambah modal usaha Tukang sepatu sehingga harapan Adipati kesejahteraan Tukang Sepatu tersebut lebih baik.
Keesokan harinya, sebagaimana biasa Sang Adipati melintas didepan tempat Tukang Sepatu. Dilihatnya ada perubahan dari penampilan Tukang Sepatu. Keseharian Tukang Sepatu yang bekerja dengan tenang dan ceria, sekarang ini malah berbanding terbalik. Sepertinya ada ketidak tenangan dan kegelisahan terpancar dari wajah Tukang Sepatu. Demikian halnya hari-hari berikutnya, setiap Sang Adipati lewat di depan tempat Tukang Sepatu dilihatnya Tukang Sepatu semakin tidak bergairah untuk bekerja. Ia sering kelihatan murung bahkan senandungnya yang selama ini terdengar saat sang Adipati melintas sudah tidak kedengaran lagi. Sang Adipati keheranan dan mendekati Tukang Sepatu.
Adipati : Hai Tukang Sepatu, kenapa beberapa hari belakangan ini aku perhatikan kamu seperti tidak punya gairah kerja, wajahmu tidak seceria yang dulu bahkan senandung-senandungmupun sekarang tidak pernah aku dengar. Padahal beberapa hari yang lalu aku telah memberimu hadiah.
Tukang Sepatu : Ampun Tuan Adipati. Saya kepikiran menerima hadiah dari Tuanku, saya tidak tahu untuk apa uang sebanyak ini diberikan kepada saya. Hendak dibelikan perkakas sol sepatu saya rasa belum perlu karena perkakas yang saya miliki masih bisa digunakan. Mau dibelikan Perabot rumah tangga. Barang-bangan elektronik, tidak ada tempatnya di rumah saya, rumah saya sudah cukup terisi perabotan kebutuhan sehari-hari. Mau disimpan saja dirumah, takut ada pencuri yang mengambilnya. Jadinya pikiran saya kemana-mana, tidak bisa tertuju pada pekerjaan saja. Saya bingung tuanku. Dan kalau tuanku tidak keberatan saya ingin mengembalikan hadiah pemberian yang tuanku berikan.
Demikianlah akhirnya hadiah yang sempat diterima Tukang Sepatu itu dikembalikan dan esok harinya Sang Adipati kembali bisa melihat Tukang Sepatu bekerja dengan ceria tanpa sedikitpun ada kecemasan diraut wajahnya serta tidak lupa senandungnya selalu menghiasi sepanjang melakukan pekerjaannya.
Dalam kesendiriannya, sang Adipati merenungkan kehidupan yang dijalani si Tukang Sepatu. “Ternyata Materi tidak selamanya dapat membuat orang merasa hidup bahagia. Justru kebahagiaan itu dinikmati si Tukang Sepatu adalah karena ketulusan hati mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya serta senantiasa mensyukuri apa saja yang didapatkannya dari pekerjaan yang dilakukannya”. Ibaratnya bagai orang yang hendak membuat kemeja, maka agar kemeja tersebut nyaman dipakai dan serasi sehingga enak dilihat orang maka buatlah baju sesuai dengan ukuran badan kita (jangan memakai ukuran badan orang lain) serta bahan kemeja yang terjangkau kantong kita untuk membelinya.

8 komentar:

Anonim mengatakan...

cerita yang sangat bagus dan memiliki makna yg begitu dalam...aku senang baca2 cerita di blog anda...

Anonim mengatakan...

Setuju.... tak selamanya materi mampu membeli kebahagiaan...
Blog yang bagus ..... Smoga terus berkarya. Trims

M32

Anonim mengatakan...

Setuju.... tak selamanya materi mampu membeli kebahagiaan...
Blog yang bagus ..... Smoga terus berkarya. Trims

M32

Anonim mengatakan...

Setuju.... tak selamanya materi mampu membeli kebahagiaan...
Blog yang bagus ..... Smoga terus berkarya. Trims

M32

Anonim mengatakan...

Setuju.... tak selamanya materi mampu membeli kebahagiaan...
Blog yang bagus ..... Smoga terus berkarya. Trims

M32

Anonim mengatakan...

Setuju.... tak selamanya materi mampu membeli kebahagiaan...
Blog yang bagus ..... Smoga terus berkarya. Trims

M32

Anonim mengatakan...

Setuju.... tak selamanya materi mampu membeli kebahagiaan...
Blog yang bagus ..... Smoga terus berkarya. Trims

M32

Anonim mengatakan...

Setuju.... tak selamanya materi mampu membeli kebahagiaan...
Blog yang bagus ..... Smoga terus berkarya. Trims

M32