Tampilkan postingan dengan label JATI DIRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JATI DIRI. Tampilkan semua postingan

16 Juli 2009

Dikenal Maka Disayang


Ucapan tersebut diatas merupakan kebalikan dari Tak Kenal Maka Tak Sayang yang sering kali diucapkan seseorang mengawali perkenalan dirinya. Adapun maksudnya adalah dalam kita berinteraksi pada suatu forum atau masyarakat syarat minimal yang harus dipenuhi untuk memungkinkan berhasilnya interaksi kita adalah jalinan saling kenal melalui proses memperkenalkan diri. Tujuannya adalah ya...sudah pasti agar bisa dikenal oleh yang lainnya. Tetapi interaksi kita akan lebih efektif apabila kita mampu saling mengenal satu dengan yang lainnya. Dari perkenalan ini diharapkan bisa terjalin komunikasi dua arah yang disadari atau tidak nantinya menumbuhkan “rasa saling” (yang positif”) . Kalau tidak memperkenalkan diri maka kita sudah pasti tidak dikenal dan tidak saling mengenal, sehingga interaksi menjadi kurang efektif karena dirasa ada sekat yang membatasi kita dalam berinteraksi. Hal tersebut baru kusadari dan kubuktikan sebagaimana pengalaman berikut ini.

Selasa, 14 Juli 2009 tepatnya pukul 19.30 Wita, aku bersama istri dan kedua anakku bertamu ke rumah temanku di LC Dauhwaru dengan mengendarai motor Thuder-ku yang sedikit dimodif sehingga lebih gaul baik tampilan maupun suaranya. Tujuan utamaku adalah menghantarkan Wasuan/Tirta yang didapat pada waktu tirta yatra ke Pura Blambangan, Alas Purwo dan Semeru Agung di Lumajang, yang mana pada saat tirta yatra tersebut temanku ini tidak sempat membawa tempat tirta sehingga tirta yang aku dapat tunas di ketiga pura tersebut aku bagikan kepada temanku tersebut.
Dari rumah temanku ini selanjutnya dilanjutkan ke rumah teman istriku di Banjar Menega. Kira-kira pukul 20.45 Wita aku bertolak dari rumah teman istriku pulang ke rumah. Tanpa disadari pada saat menyebrang di perempatan Tegalasih-Dauhwaru, karena jalan agak nanjak dan adanya kendaraan yang sudah begitu dekat dari barat, aku track motorku sehingga suaranya agak keras (sedikit ngebrong) dan setelah dirasa aman, motor kupacu sewajarnya sampai akhirnya berhenti di depan trafick light yang menunjukkan warna merah. Tidak ada sesuatu keganjilan yang kurasakan, tapi tiba-tiba pengendara sepeda motor dibelakangku nerobos lampu merah dan parkir didepan pos jaga polisi, kemudian melepas helm dan jaket yang dikenakannya. Terlihat olehku seragam polisi yang menunjukkan pengendara sepeda motor bebek tadi adalah seorang Polisi. Aku berpikir Polisi tersebut hendak bergabung dengan dua rekannya yang sudah nge-pos ditempat tersebut. Ternyata dugaanku meleset, Polisi itu kemudian meniup peluitnya dan memberi tanda agar salah satu kendaraan yang berhenti di depan trafick light untuk kepinggir. Aku yang merasa tidak punya salah apa-apa tidak menyadari bahwa yang diminta kepinggir adalah aku dan setelah yakin yang dimaksud oleh polisi tersebut adalah aku maka motorkupun kupinggirkan sebagaimana petunjuk polisi tersebut.
Sesampai didepan polisi tersebut motor kumatikan sebagai rasa hormatku pada polisi yang memanggilku. Polisi tersebut dengan mimiknya yang tegas dan sepertinya sedikit marah mulai menanyaiku prihal knalpot motorku yang suaranya ngebrong. Kelihatannya polisi tersebut tersinggung ketika aku trek motorku didepan motornya. Polisi tersebut melanjutkan pertanyaannya sepertinya mencari-cari kesalahanku sehingga bisa menilangku dan mulai menceramahiku. Niat polisi tersebut untuk mengintrograsi-ku tiba-tiba berubah nadanya ketika aku membuka helm-ku dan ada cahaya mobil menerpa wajahku. Polisi tersebut sepertinya mengenaliku dan sepertinya agak sungkan atau segan terhadapku sambil berkata “kaden anak Nyen ?” (Tak kirain siapa ?) Polisi tersebut tidak jadi melanjutkan niatnya untuk mengintrograsi-ku dan menilangku, malah ia berlalu meninggalkanku dan mempersilahkanku melanjutkan perjalanku. Aku pun kemudian berlalu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada polisi yang tidak ku kenal tersebut.
Apa sebenarnya yang terjadi ?
Ternyata memang benar “dikenal maka disayang”. Polisi tersebut mengenaliku (entah itu pribadiku, jabatanku atau mungkin aktivitasku ) meskipun aku tidak mengenali pribadi Polisi tersebut. Mungkin kalau aku tidak dikenali Polisi tersebut, kata orang pencetus slogan tersebut “aku melayang” yaitu kemungkinan besar aku kena tilang karena menyalahi ketentuan standar sepeda motor. Tetapi “dikenal” orang tidak selamanya bermakna Positif sebagaimana kejadian yang aku ceritakan diatas, dimana orang menjadi segan, hormat, bahkan mungkin iba terhadap diri kita. Bagi sebagian orang “dikenal” orang dapat bermakna negative karena mungkin seseorang akan merasa terganggu privacy-nya karena kemana-mana dan dimana-mana seperti diawasi oleh banyak orang meskipun kita mungkin tidak mengenali orang tersebut. Hal ini harus kita sadari karena segala sesuatu didunia ini selalu memiliki makna ganda, hal ini tergantung dari sudut pandang seseorang dan juga kepentingan orang. Dalam filsafat Hindu hal ini dikenal sebagai Rwa Bhineda; Sebut saja Siang dan malam adalah pemaknaan dari hari. Ganteng dan tidak ganteng / jelek adalah pemaknaan dari wajah seorang laki-laki. Jauh dan dekat adalah pemaknaan dari jarak dan masih banyak lagi yang lainnya.
Hand phone (Hp) dapat dimaknai sebagai teknologi komunikasi yang positif dan negative, tergantung dari sudut pandang kita. Hp dimaknai positif jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat kebaikan demikian sebaliknya akan dimaknai negative jika dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik seperti untuk transaksi togel, untuk janjian ketemuan orang selingkuh dan sebagainya.
Oleh karena itu mari gunakan Wiweka kita untuk menyikapi segala sesuatunya agar bermakna positif.
Astungkara

13 Juli 2009

Di atas Awan


Suatu hari pernah aku berpikir bagaimana seandainya aku dipercaya sebagai seorang pejabat yang mengepalai sebuah kantor, terus aku dapat tugas ke luar daerah dimana dalam keberangkatan ke daerah tujuan aku menaiki pesawat terbang. Ada Tanya besar dalam benakku bagaimana prosesnya hingga naik ke Pesawat Terbang dan setibanya di bandara tujuan? Semua itu tidak pernah tergambarkan dalam benakku.

Kalau kemungkinan menjadi Pejabat,……….ah.. ini sih sangat mungkin sekali, dan bagiku tidak ada masalah karena peluang kearah itu sangat-sangat memungkinkan dengan usiaku yang masih relative muda, pengalaman kerja yang lebih dari cukup dan basic pendidikanku memungkinkan untuk itu. Tetapi untuk urusan traveling on the air yang menurutku merupakan perjalanan kelas “the have” karena biasanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya duit lebih, ………….itu belum pernah ku jalani, tetapi kalau sudah jadi pejabat kemungkinan itu pasti dan tidak mungkin tidak pasti akan aku jalani. Oleh karena itu aku tidak ingin menjadi pejabat yang malu-maluin dengan segala macam ketidak tahuan traveling on the air, dan kebetulan tampangku memang tidak cocok kalau dibilang tidak tahu atau tidak bisa. (maklum aja tampangku ini tampang orang pintar lho ha..ha..ha…).
Sebenarnya dulu sekitar tahun 1988-an, waktu aku lulus Ikatan Dinas di APDN Mataram, aku dan teman-teman seangkatanku pernah naik pesawat terbang menuju bandara Rembiga di Lombok Barat, tetapi jujur ku akui aku benar-benar tidak tahu prosesnya. Tahunya aku seperti kerbau yang digiring oleh tuannya masuk kandang sehingga tidak sedikitpun terbayang seandainya aku dilepas sendiri untuk melakukan hal tersebut.
Aku tidak mau malu-maluin dihadapan orang, karena itulah pernah ku berpikir mudah mudahan suatu saat sebelum benar-benar aku menjadi pejabat dan mendapat tugas keluar daerah, ada yang mengajakku tugas keluar daerah sehingga aku bisa belajar bagaimana proses keberangkatan melalui pesawat terbang sehingga nantinya ada gambaran apa yang harus aku lakukan jika mendapatkan kesempatan seperti itu.
Harapanku ini ternyata menjadi kenyataan. Kepala Dinas-ku menawari aku untuk ikut menghadiri suatu acara Seminar di Propinsi Jambi. Aku setengah tak percaya karena sebagaimana undangan yang ku baca, bahwa yang diundang dan dibiayai transporatasi dan akomodasinya adalah satu orang. Namun dengan kewenangan yang dimiliki Kepala Dinas-ku itu tidak ada kata tidak mungkin, dan aku harus berangkat bersama Beliau ke Jambi. Aku diminta menyiapkan bahan presentasi Pelayanan perijinan yang akan disampaikan pada seminar tersebut, Disamping itu aku juga mempersiapkan administrasi keberangkatan ke Jambi serta mencoba mengkoordinasikan kepada panitia di BKPM Jakarta (ibu Maya) agar dibantu untuk biaya keberangkatan dan akomodasi untuk dua orang dari Jembrana. Dan sepertinya Ibu Maya menyanggupi. Aku merasa lega karena harapanku terkabulkan baik niatku agar ada yang mengajakku naik Pesawat Terbang maupun ditanggungnya keberangkatan kami berdua oleh Panitia.
Pada tanggal (28 Oktober 2008) aku berangkat dari Negara naik angkutan umum ke Terminal Ubung. Sebagaimana perjanjian dengan Kepala Dinas-ku, aku dijemput sekitar jam 9 an di Terminal Ubung untuk lanjut menuju Bandara Ngurah Rai diantar oleh menantunya Pak Kadis. Katanya kita harus berada lebih awal sejam dari waktu keberangkatan pesawat. Sesampai di Bandara Ngurah Rai, kami menuju tempat penjualan Tiket. Kami bertemu dengan seorang yang memberikan tiket keberangkatan pulang pergi dari Denpasar ke Jambi. Dari pembicaraan antara Kadis-ku dengan orang tersebut ternyata orang tersebut adalah orang yang dimintai tolong oleh Pak Kadis untuk membeli/membooking tiket lebih awal dari saat keberangkatan. Dan itu bisa dilakukan bahkan kadang kita bisa dapat tiket dengan harga promo yang jauh lebih murah dari harga tiket yang dibeli langsung saat berangkat. Pemesanan tiket ini biasanya melalui Travel Agent yang ada.
Dengan menunjukkan Tiket keberangkatan kepada petugas Bandara, kami mulai memasuki areal Ruang Bandara. Barang bawaan ditempatkan pada suatu tempat yang sudah disediakan untuk selanjutnya dipantau dengan menggunakan alat sensor yang dapat mengetahui isi dari tas yang dibawa penumpang. Demikian juga badan kita diperiksa oleh petugas sehingga dapat dipastikan semua penumpang tidak membawa alat-alat yang membahayakan selama penerbangan. Alat elektronik seperti Hp juga dilewatkan melalui jalur yang disediakan.
Setelah melalui tahapan pemeriksaan tersebut, kami menuju ke tempat untuk melakukan Boarding Pass yang sudah disiapkan menurut jenis Maskapai penerbangan yang kita gunakan. Kebetulan kami rencananya menggunakan maskapai penerbangan Lion Air maka tempat Boarding-nya pun di Lion air. Yang dilakukan ditempat ini adalah untuk memastikan orang yang berangkat menggunakan tiket yang dibelinya. Kami menyertakan KTP sebagai salah satu bukti diri yang berangkat. Juga ditempat Boarding ini kita juga bisa meminta sit/tempat duduk yang diinginkan seperti misalnya yang didekat Jendela atau di bagian depan sebagaimana keinginan, dan sepanjang masih bisa diatur maka kita akan mendapatkan Sit/tempat duduk sebagaimana yang diinginkan. Ditempat ini juga kita dapat memilih apakah barang bawaan kita dibawa langsung dan nantinya disimpan di kabin yang ada diatas tempat duduk kita atau dititipkan untuk dibawa petugas dan disimpan di Bagasi Pesawat. Selanjutnya kita diberikan lembaran boarding passnya yang berisi keterangan Nomor penerbangan, Nomor tempat Duduk, Jam Penerbangan serta tujuan penerbangan.
Dengan lembaran kertas boarding ini kami selanjutnya menuju tempat pembayaran Airport Tax. Setelah membayar airport tex, kembali penumpang diperiksa melalui alat detector sebelum memasuki ruang tunggu pemberangkatan. Diruang tunggu sudah tersedia stand orang berjualan makanan, minuman, buku-buku, cendra mata termasuk ada stand massage. Harga-harga barang dagangan diruang tunggu inipun tidak sama dengan harga –harga barang diluar baik diareal Bandara maupun diluar Bandara. Sehingga otomatis kalau kita membawa bekal pas-pasan lebih baik segala sesuatunya disiapkan dari rumah. Kalau senang camilan, bawalah camilan dari rumah, kalau biasanya harus makan, makanlah dirumah atau diluar areal bandara, karena kalau sudah memasuki areal bandara diharapkan jangan kaget kalau harga barang atau makanan lebih mahal. Kalau kelupaan dan terpaksa beli di Bandara ya…harap maklum saja-lah.
Diareal ruang tunggu juga sudah disiapkan tempat khusus untuk merokok sehingga tidak mengganggu yang lainnya. Setiap saat ada keberangkatan pesawat maupun pendaratan pesawat, Operator Bandara mengumumkan lewat pengeras suara yang ada di ruang tunggu.
Pada saat ada panggilan akan keberangkatan pesawat sebagaimana tujuan dan nomor penerbangannya yang tertera pada boarding pass-nya maka penumpang bersangkutan bersiap-siap menuju tempat yang disiapkan dengan menunjukkan boarding pasnya. Selanjutnya kita menuju ke pesawat yang sudah disiapkan.
Didalam pesawat aku memilih tempat duduk yang dekat jendela sedangkan Kadis-ku disebelah-ku. Pramugari pesawat sibuk membantu penumpang untuk mencari tempat duduknya dan untuk menempatkan barang di Kabin. Mereka juga mengecek apakah semua sit sudah terisi serta memastikan jumlah penumpang dalam pesawat tersebut. Selanjutnya juga diberikan petunjuk hal-hal yang harus diketahui penumpang selama penerbangan dan hal-hal yang menyangkut kedaruratan yang diperagakan oleh pramugari.
Setelah semua siap, pesawat menuju landasan pacu untuk segera take off/lepas landas. Sebagai seorang yang baru melakukan penerbangan sudah barang tentu ada perasaan was-was sehingga setiap saat aku berdo’a semoga pernerbangan ini berjalan lancer, selamat sampai ditujuan serta dihindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa kali aku membaca buku doa yang disiapkan di pesawat. Sambil berdoa aku mencoba untuk menikmati panorama alam dari dalam pesawat. Aku menyaksikan lautan luas membentang, perumahan yang kelihatan mungil, gunung-gunung nan indah, serta kumpulan awan seperti sebuah pegunungan/perbukitan. Saat pesawat berbenturan dengan awan terasa seperti bergetar yang kalau dicarikan persamaannya dengan naik bis/mobil yang melewati jalan berlubang. Pada kondisi seperti ini pilot berusaha meninggikan posisi pesawat sehingga lebih aman dan akupun merasakan berada diatas awan.
aku merasa mungkin inilah selogan diatas langit ada langit, dari bumi jarak pandang kita dibatasi oleh awan dan ternyata diatas awan ada awan lagi. Dan dalam penerbangan ini seakan merbuktikan diatas langit ada langit. Aku merasa kagum dan takjub. Betapa besar ke Maha Kekuasaan Ida Sanghyang Widhi Wasa, menciptakan alam yang begitu indah, serta mengaturnya sesuai kehendah-Nya. Aku merasa sedikit kecewa karena tidak membawa kamera sehingga tidak dapat mengabadikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Dalam batinku berkata mudah-mudahan ada kesempatan lagi sehingga dapat mengabadikan pemandangan indah dari dalam pesawat terbang.
Tidak terasa menikmati penerbangan ini yang berlangsung kurang lebih satu setengah jam, kamipun akhirnya tiba dan mendarat di Bandara Soekarno – Hatta dengan selamat. Kami keluar pesawat melalui lorong yang sudah disiapkan. Bagi yang penerbangan transit seperti yang kami lakukan karena akan ke Jambi maka kami melaporkan diri ditempat yang sudah ditentukan. Dan bagi yang memang sampai di Jakarta ada yang langsung keluar menuju areal parkir dan yang menitipkan barang di Bagasi pesawat menunggu ditempat pengambilan barang yang sudah disiapkan seperti ban berjalan. Diluar terminal penerbangan sudah menunggu banyak orang dengan kepentingannya masing-masing. Ada yang menjemput, ada yang menawarkan jasa angkutan dan sebagainya.
Demikianlah sedikit pengalamanku melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang. Dan semua tahapan-tahapan tersebut telah member pelajaran yang berarti sebagai bekal aku didalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya.
Astung kara.


22 Juni 2009

Misteri Pengundian Door Price

Kejadian ini aku alami ketika aku masih menjabat sebagai Sekretaris Camat Negara. Pada suatu hari aku mengecek agenda kegiatan Camat, dan ada beberapa kegiatan yang harus dihadiri Camat dalam waktu bersamaan. Dari beberapa kegiatan Camat tersebut aku tertarik untuk menghadiri peresmian beroperasinya Bank Sinar Jreng di Jembrana yang kegiatannya dilaksanakan di Gedung Mendopo Kesari. Biasanya peresmian beroperasinya suatu badan usaha seperti beroperasinya Bank diiringi dengan pemberian souvenir bagi hadirin yang menghadiri kegiatan tersebut (dalam pikiranku akan dibagikan payung cantik dengan logo Bank Sinar Jreng). Aku berkeinginan untuk mendapatkan souvenir tersebut karena kebetulan dirumah tidak punya payung. .

Ketika aku sampaikan jadwal kegiatan Camat tersebut tidak kuduga ternyata Bapak Camat memerintahkan aku untuk menghadiri kegitan tersebut dan akupun dengan gembira menghadirinya apalagi aku memang berkeinginan untuk menghadiri kegiatn tersebut, sedangkan kegiatan yang lainnya didistribusikan kepada Kepala Seksi yang membidangi. Ini adalah anugrahku yang pertama, batinku.
Ketika aku memasuki Gedung Mendopo Kesari, pegawai Bank Sinar Jreng yang bertugas menerima tamu undangan menyambutku dan snack kotak dengan sebuah cendramata berupa payung dengan logo Bank Sinar Jreng (sebagaimana yang aku pikirkan) dan selanjutnya mengarahkanku untuk duduk ditempat yang sudah disediakan. Undangan yang kubawa ternyata berisi sobekan nomor yang akan diundi untuk diberikan hadiah door price. Sambil duduk aku perhatikan banyak pajangan hadiah yang merupakan hadiah undian bagi nasabah Bank Sinar. Dalam hatiku ada keinginan untuk mendapat hadiah door price yang diundi untuk para undangan yang bentuknya berupa Tabungan dan Bingkisan yang kalau aku tebak isinya sebuah Jam Dinding.
Acara demi acara berlangsung lancar diselingi dengan penarikan undian dan door price. Door price berupa Tabungan sudah diambil dan aku tidak termasuk didalam undangan yang mendapat hadiah tersebut. Ketika pemberian door price bingkisan jam dinding, aku diberi kehormatan untuk mengambil nomor undian. Aku ambil kupon undian dan kubaca ternyata nomor tersebut adalah sobekan nomor kartu undanganku. Aku dan juga hadirin lainnya merasa heran. Suatu kebetulan atau apakah namanya, aku tidak bisa menamainya. Yang pasti aku tidak melakukan kecurangan. Nomor sobekan undanganku sudah kuserahkan lebih awal dan aku mengambil nomor sobekan yang diundi tidak melihat dan tidak milih-milih, aku ambil sobekan itu begitu saja dan ….jadilah aku penerima door price bingkisan berupa jam dinding Bank Sinar Jreng sebagaimana yang aku pikirkan dan harapkan.
Aku naik keatas panggung bersama dua undangan lainnya untuk menerima bingkisan door price dari Bank Sinar. Dalam hatiku berucap syukur karena hari ini Ida Sanghyang Widhi telah menganugrahkan kepadaku sesuatu yang aku pikirkan dan aku harapkan…….Astungkara.
Mungkin ini adalah salah satu contoh adanya kekuatan Hyang Widhi dan juga salah satu bentuk “Kekuatan Pikiran” yang harus aku syukuri dan aku latih dengan senantiasa berpikiran positif, sehingga membuahkan hasil yang positif juga.



18 Juni 2009

Penembak Misterius

Kejadian ini menarik untuk aku tuangkan dalam tulisan ketika aku membaca berita Koran di Harian Nusra pada hari Rabu, 11 Pebruari 2009 yang memuat berita tentang seorang ibu didaerah Melaya yang sedang menjemur pakaian tiba – tiba matanya berdarah yang mana setelah diperiksakan ke Rumah Sakit Umum Negara ternyata dalam luka tersebut bersarang pelor senapan angin yang ditembakkan oleh orang misterius. Dikatakan misterius karena baik si Ibu tersebut maupun suaminya tidak ada yang tahu ada orang yang bermain-main dengan senapan angin di sekitar tempat tersebut. Karena luka tersebut tidak bisa ditangani di RSU Negara akhirnya dirujuk ke BRSU Tabanan dan akhirnya dirujuk kembali ke RSUP Sanglah.

Berita tersebut mengingatkan aku pada kejadian yang aku alami beberapa hari yang lalu yaitu tepatnya pada hari Jum’at, 6 Pebruari 2009, dimana pada waktu itu iparku Nyoman Ardika yang bekerja di sebuah fila di Ubud mendapat tugas mengantarkan tamu ke Pulau Manjangan. Sekembali dari mengantar tamu ia mampir ke rumah. Dan aku yang ketika itu sedang bekerja di kantor dihubungi lewat Hp. Aku sih setengah tak percaya dia itu ada dirumah di Negara, sehingga aku coba memastikannya dengan menghubungi istriku yang kebetulan waktu itu sedang tidur siang sehingga pertanyaanku yang menanyakan Bli Nyoman Ardika ada dirumah tidak dimengerti dan akupun matikan Hp-ku. Ketika Bli Nyoman menghubungiku untuk kedua kalinya baru aku percaya dia benar-benar sudah ada di rumah, dan akhirnya akupun bergegas pulang dan kebetulan karena hari jum’at aku pulang lebih awal dari biasanya yaitu jam 15.00 Wita.
Ketika aku sampai dirumah, aku lihat Bli Nyoman sudah dibuatkan kopi oleh istriku dan sedang bersantai ria. Kami sempat kembali membicarakan perihal upacara ngantukan betara sri yang agak konyol juga aku rasa karena ditengah kesibukan upacara tersebut Bli Nyoman sempat-sempatnya menyaksikan/menontor sabungan ayam (tajen) dan meninggalkan ibuk dipura bersama Jro Mangku.
Menjelang kembali ke Denpasar, aku ajak Bli Nyoman makan di warung makan disebelah Pura Jagatnatha diikuti juga oleh anak-anak dan istriku. Itung-itung aku penuhi janjiku yang selama ini ingin mengajak anak-anak dan istriku untuk makan disana. Dengan kendaraan Suzuki AVP yang dibawa Bli Nyoman kami kelokasi makan.
Aku merasa bangga karena aku sempat mencoba mobil tersebut sehingga ada juga niatan suatu saat nanti kalau punya uang cukup aku akan membeli kendaraan seperti ini dan kebanggaanku juga karena aku sempat mempromosikan tempat makan tradisional yang murah namun memenuhi selera kita. Aku liat kayaknya makanan tersebut tidak mengecewakan.
Selesai makan, saat kami bincang-bincang seputar angan-angan yang harus kumunculkan sebagaimana petunjuk buku The Screet yang pernah dibaca Bli Nyoman, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang mengenai leherku dan terasa seperti ada orang usil yang mentet aku pakai ketapel mainan (perkiraanku ada temanku disekitar sana yang usil menggodaku). Aku tengok dibelakangku tidak ada siapa-siapa termasuk ketika aku lihat arah orang yang ngetapelku juga tidak ada siapa-siapa. Yang ada disana hanyalah bapak dagang makanan dengan temannya yang bermain bersama istri dan cucunya. Bingung juga aku dibuatnya dan ketika aku melihat kebawah ternyata ada sebuah pelor senapan angin tergeletak. Aku kaget jangan-jangan ada orang usil main senapan angin dan tidak disengaja nyasar ke leherku. Kembali aku mencoba mencari orang yang kemungkinan main senapan angin yang arahnya dari jalan raya atau Polsek Negara dan ternyata tidak juga ada orang yang pantas untuk dicurigai karena tidak ada orang. Kami semua bingung dan bertanya Tanya siapa gerangan yang melakukan semua ini. Ditengah kebingungan kami, aku tetap bersyukur karena pelor tersebut tidak bisa melukaiku. Hal ini kemungkinan karena jarak orang yang menembaknya cukup jauh atau kokangan senapan anginnya tidak terlalu kuat sehingga tidak bisa melukaiku, demikian analisaku.
Karena anak-anakku juga sudah selesai makan, setelah aku bayar semua yang kami makan, akhirnya kami bergegas pulang. Kepada bapak pengelola warung aku ceritakan juga kejadian yang aku alami dan sempat juga membuat ia kaget. Kejadian itu akhirnya berlalu begitu saja sepulang kami dari tempat tersebut dan tidak aku anggap istimewa namun akhirnya baru terasa istimewa setelah berita koran tentang korban tembak misterius di daerah Melaya, sehingga aku menduga jangan-jangan ini aksi terror yang dilakukan untuk membuat masyarakat resah.
Semoga aja tidak ada lagi korban sehingga masyarakat tidak perlu resah.


13 Maret 2009

DALMAS "porak-porandakan" Kantor Pelayanan Umum


Kejadian ini kualami pada hari Kamis, 25 Oktober 2007. Waktu itu bertepatan dengan bulan puasa bagi umat islam. Seperti biasa menjelang Lebaran tiba banyak perusahaan/sponsor memasang reklame disepanjang jalan Jurusan Denpasar – Gilimanuk. Bermacam-macam terik dipakainya dalam upaya agar tidak dikenakan Pajak Reklame oleh Pemerintah Kabupaten. Ada yang memasang umbul-umbul dan spanduk ditiap-tiap Pos Pengawasan arus mudik, Masjid-Masjid dan ada juga yang memasang disetiap tikungan, Perempatan jalan dengan menyertakan logo POLRI, dan lain sebagainya. Semua itu membuat pemandangan disepanjang Jalan Denpasar-Gilimanuk ramai/meriah. Hal yang membuat Pemkab Jembrana gerah yaitu tidak adanya koordinasi dan tidak maunya pihak sponsor membayar Pajak Reklamenya. Menyaksikan penomena tersebut, sudah menjadi tugas Tim Penertiban Reklame untuk untuk menertibkannya.
Dalam rangka penertiban Spanduk dan umbul-umbul tersebut, kami dari Tim Penertiban sempat berkoordinasi dengan pihak kepolisian dengan bersurat kepada Kapolres menanyakan status umbul-umbul dan spanduk yang memuat logo POLRI oleh para pengusaha Rokok, Sepeda motor/mobil maupun operator Seluler.

Dalam jawabannya Kapolres menyatakan bahwa pihak Kepolisian ada menjalin kerjasama dengan pihak XL dalam pengadaan spanduk dan umbul-umbul selama proses pengamanan arus mudik Lebaran tahun 2007.

Berbekal permakluman tersebut, Tim akhirnya menertibkan spanduk dan umbul-umbul yang tidak berijin yang dipasang sekehendak hati oleh para sponsor dan diluar kontek kerjasama dengan Pihak Kepolisian. Meskipun petunjuknya sudah jelas, Tim dalam melakukan aksi penertiban masih mentolelir keberadaan spanduk dan umbul-umbul illegal yang dipasang di pos-pos pengawasan arus mudik yang ditempati para Polisi.

Langkah yang telah dilaksanakan Tim dalam operasi rutin penertiban reklame setiap minggu ini diblow-up oleh wartawan dengan memajang foto spanduk berlogokan POLRI yang telah di tertibkan Tim.

Dari pemberitaan inilah akhirnya ada mis-komunikasi antara Pemkab Jembrana dengan Polres Jembrana dan atas masalah ini pihak Pemkab yang diwakili Kabid Yanum dan Kabid Inkom telah meluruskan pemberitaan tersebut ke Polres Jembrana dan permasalahan dinyatakan sudah selesai. Namun kenyataan berkata lain. Esok hari Kamis, 25 Oktober 2007, sehari setelah kesepakatan damai antara Pihak Pemkab Jembrana dengan Polres Jembrana, satu pleton Dalmas Datang ke Pemkab Jembrana tepatnya di Pelayanan Umum. Mereka menanyakan spanduk berlogokan POLRI yang ditertibkan Tim Penertiban Reklame. Karena berbanyak kedatangan anggota Dalmas Polres Jembrana membuat gaduh kantor pelayanan. Bagai kawanan Rampok mereka berhamburan dan berteriak-teriak menanyakan keberadaan spanduk berlogokan POLRI yang ditertibkan TIM. Mereka juga menanyakan keberadaan Kepala Dinas Inkom, Yanum, Perhubungan dan Data untuk dimintai pertanggung jawabannya. Mereka memasuki ruang kerja Staf Pelayanan Umum, mengobrak-abrik ruang kerja, ruang arsip dan Pintu ruangan dirusaknya. Staf Pelayanan yang ada dibuat ketakutan. Pol PP Pemkab Jembrana tidak ada yang berani mencegahnya. Saat kejadian itu Aku dan Tim Penertiban Reklame sedang melakukan kegiatan rutin untuk melakukan penertiban reklame. Seorang staf pelayanan menghubungi Aku lewat Hp dan meminta Aku dan Tim kembali ke Kantor. Setiba dikantor Aku menyaksikan aksi anggota Dalmas yang liar bagai garong, tidak tahu etika mengobrak-abrik kantor pelayanan, teriak-teriak dengan kata-kata kasar dan menantang semua pegawai di pelayanan umum. Keangkuhan dan anarkisme aparat penegak hukum telah dipertontonkan satu pleton anggota Dalmas Polres Jembrana. Sungguh suatu tindakan yang tidak terpuji dan membuat kami kesal dan dongkol.

Mereka juga memperlakukan Kepala Dinas kami dengan tidak hormat, menyeret dan menggelandangnya untuk dimintai pertanggung jawabannya dihadapan anggota Dalmas. Mereka tidak terima dengan penjelasan Kepala Dinas kami, sampai akhirnya Aku sebagai koordinator Tim diminta untuk memberikan penjelasan ditengah-tengah kerumunan mereka.

Dengan kekesalan hati melihat kelakuan tidak terpuji mereka yang sepertinya ada muatan-muatan tertentu (menurut penilaianku) aku datang ditengah-tengah mereka yang berwajah garang dan emosian (seperti dibuat-buat). Dalmas yang semula ramai dengan kata-kata makian dan cacian mau terdiam dan mendengarkan keterangan yang aku sampaikan. Anehnya lagi mereka sepertinya bisa menerima penjelasanku dan selanjutnya menarik diri, kembali ke markasnya dengan mobil operasionalnya. Dalam hatiku aku bersyukur mereka tidak banyak tanya dan segera balik ke markasnya.

Setelah anggota Dalmas ditarik ke Markasnya, suasana kantor pelayanan umum akhirnya kembali normal, namun kelihatan dari wajah-wajah staf pelayanan umum masih tegang sepertinya trauma atas kejadian tadi. Kejadian ini sungguh membuat kami dan juga masyarakat pemohon ijin di Kantor Pelayanan Umum yang menyaksikan aksi Dalmas Polres Jembrana merasa kecewa.

Aparat kelakuannya seperti itu, gimana bisa mengayomi masyarakat ? Cuma karena sebuah spanduk berlogo POLRI yang dipenempatannya tidak sesuai dengan ketentuan akhirnya diturunkan oleh Tim Penertiban Reklame membuat mereka lupa diri akan kedudukan dan kehormatannya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat sehingga dengan sengaja atau pun tidak, dengan sadar atau tidak, diperintah atasannya atau tidak telah berbuat anarkis disaksikan masyarakat umum.

Bagaimana ini para pimpinan POLRI di Jembrana, di Bali atau di Jakarta ? Tau nggak anggota bapak berkelakuan seperti itu ? Bina dong anggota bapak yang tidak disiplin ini. Atau kali diam-diam semua itu terjadi atas perintah bapak????

Ditengah perbincangan staf Pelayanan Umum terkait dengan aksi Dalmas mengamuk yang baru saja berlalu dari pandangan mereka, ternyata ada beberapa staf yang bertanya padaku akan ketidak wajaran yang dilihatnya disaat aku memberikan penjelasan ditengah-tengah anggota Dalmas dimana disaksikan oleh mereka anggota Dalmas mau mendengarkan penjelasan aku (sebelumnya mereka cuek/tidak menghiraukan penjelasan Kadis dan Kabid) dan bisa menerimanya kemudian langsung kembali kemarkasnya.

Staf aku tersebut mengira aku membawa jimat pengasih-asih atau punya kekuatan supra natural sehingga Dalmas tersebut asih kepadaku dan mau mendengarkan kata-kataku.

Atas pertanyaan mereka aku katakan bahwa skenario Dalmas mengamuk memang sampai disitu, sehingga segera mengakhiri aksinya. (jawaban itu aku sampaikan untuk menghindari kesan aku ini orang yang punya kekuatan supra natural, padahal aku yakin semua itu terjadi karena kehendak Ida Sanghyang Widhi).

Astungkara………………..


12 Maret 2009

SESUATU TERJADI SECARA KEBETULAN ?

Kejadian ini aku alami pada tahun 2001. Ini adalah pengalamanku untuk pertama kalinya mengendarai kendaraan roda empat berupa Daihatsu Espass warna merah metalik keluaran tahun 1995.yang kebetulan baru kumiliki. Sebagai orang yang baru bisa mengendarai mobil sudah barang pasti aku belum begitu mahir untuk mengemudi dan belum begitu tahu seluk beluk mesin mobil. Tetapi karena ada niatan refresing mengisi liburan akhir pekan, aku beranikan diri untuk mengemudikan mobil ke Denpasar.
Pagi yang cerah, sebelum kami berangkat ke Denpasar aku menyempatkan diri untuk ngaturan bakti di Pelinggih Kemulan untuk mohon perlindungan Hyang Widhi agar perjalanan kami lancar tidak menemukan hambatan. Berbekal keyakinan dan untuk menambah pengalaman aku mencoba mengemudikan mobilku menempuh perjalanan jauh didampingi istri dan anakku yang masih kecil serta ibu mertua

Dalam perjalanan menuju Denpasar dalam batinku tetap berdoa semoga perjalanku lancar dan syukur aku panjatkan karena etape pertama dari rumah menuju denpasar berhasil aku lalui dengan selamat hingga sampai dirumah Mbok Dek, dan Mbok Ambar serta bermain di Ramayana dan Plaza Kerta Wijaya.

Ketika hari menjelang sore, kami-pun berangkat pulang ke Negara. Mobil yang ku kendarai berjalan dengan tenang menyusuri jalanan jurusan Denpasar – Gilimanuk. Sedikitpun tidak ada pirasat atau dugaan akan terjadi sesuatu karena dari segi fisik dan mesin mobil masih tergolong baik (ini sih penilaianku). Kami menikmati perjalanan yang menyenangkan dengan alunan musik yang kebetulan aku setel agak kenceng (mumpung baru ganti audio-nya sehinngg kedengarannya lebih bagus. Ketika tiba di Daerah Meliling, laju kendaraan dari arah Denpasar agak kurang lancar. Hal ini disebabkan adanya iring-iringan kendaraan yang agak tertahan karena adanya kendaraan tronton sarat muatan beriringan sedang menapaki tanjakan.

Pada saat mobil yang ku kendarai tiba dipertengahan tanjakan, kendaraan didepan kami berhenti. Aku yang belum begitu menguasai betul cara mengemudi yang benar dan tidak punya pengalaman apa-apa, melakukan kesalahan dalam pemakaian porsneling, kopling dan gas sehingga mobilku macet. Sempat aku mencoba start ulang beberapa kali dan akhirnya mobilku positif mogok.

Menghadapi situasi jalanan seperti itu membuat aku agak sedikit panik. Perlahan-lahan mobil aku undurkan kearah pinggir jalan untuk parkir. Aku coba lagi stater mobilku tetapi tidak membuahkan hasil. Mobilku tetap macet dan akupun keluar dari mobil untuk berpikir gimana membawa pulang keluargaku dan mobilku. Terlintas dalam benakku untuk menghubungi pamanku Pak Wiana di Kerobokan Kuta untuk menjemputku tapi urung aku laksanakan. Aku terus berpikir apa yang harus aku laksanakan agar aku bisa mengatasi masalah ini

Sungguh tidak ku sangka dan ku duga, disaat aku bingung mencari bantuan tiba-tiba dibelakangku ada mobil mendekat hendak parkir dan tiada ku duga ternyata orang yang keluar dari mobil tersebut adalah Pak Suwitra dari Dauh Waru. Bersama supirnya.

Dia sengaja memarkir mobilnya karena melihatku dengan mobilku yang sepertinya ada masalah. Akhirnya dengan bantuan pak Suwitra aku diantar mencari montir yang bisa diminta bantuannya untuk memperbaiki mobilku agar bisa hidup kembali.

Usahaku dan Pak Nyoman Suwitra tidaklah sia-sia. Seorang montir yang beroperasi disebelah pompa bensin dan kebetulan dari Negara bersedia membantuku meskipun sebenarnya jam kerjanya sudah berakhir.

Mobilku diutak atik beberapa lama tapi belum juga ditemukan penyakitnya hingga sorepun kian kelam. Akupun segera mengambil keputusan untuk mencari tali untuk menarik mobilku agar bisa dibawa ke bengkel terdekat untuk diinapkan dan aku beserta keluargaku ikut numpang pulang ke Negara di mobilnya Pak Nyoman Suwitra.

Montir dan keluargaku kembali aku tinggalkan. Dalam pencarianku mencari tali, Hp-ku berbunyi. Kulihat nama pemanggil tidak diketahui. Ketika dijawab ternyata istriku yang menelponku menyampaikan bahwa mobilnya sudah bisa hidup. Kamipun balik ke lokasi mobilku macet dan puji syukur ternyata memang benar mobilnya bisa dihidupkan meskipun menurut montirnya aku diingatkan agar mengendarainya dengan perasaan (tidak dipaksakan untuk melaju dan menjaga/mengatur pemakaian gasnya) sehingga tidak sampai mati lagi sebab kalau mati lagi kemungkinannya sulit dihidupkan karena mesinnya masih ada masalah.

Aku betul-betul mengingat dan menjaga pesan dari montirnya untuk mengendarai dengan perasaan sehingga tidak mati dalam perjalanan sampai akhirnya kamipun tiba dirumah dengan selamat.

Dari pengalamanku tersebut, aku merenung dan berkesimpulan bahwa :

1. Permasalahan yang aku alami itu memang harus terjadi meskipun aku sudah berdoa supaya terhindar dari masalah dalam perjalanan.
2. Dalam menghadapi masalah tersebut, Tuhan langsung mengirimkan kepadaku juru selamat yaitu Pak Nyoman Suwitra, Montir dan seorang yang meminjamkan Hp untuk menghubungiku ketika montir berhasil menghidupkan mobilku.
3. Juru selamat yang dikirimkan Ida Sanghyang Widhi tersebut datangnya tepat disaat aku membutuhkannya ; Pak Nyoman Suwitra saat aku keluar dari mobilku yang mogok, Pak Montir saat mau tutup tokonya dan yang meminjamkan HP saat istriku perlu segera menginformasikan bahwa mobil sudah bisa dihidupkan.
4. Khusus untuk kejadian peminjaman Hp, istriku bercerita bahwa ketika aku berlalu untuk mencari tali guna menarik mobil, beberapa saat kemudian montir berhasil mengidupkan mobilku dan saat istriku ingin memberitahukan kepadaku tiba-tiba ada pengendara sepeda motor menepi dan parkir untuk menerima telepon dari temannya dan setelah selesai menerima telepon istriku memberanikan diri untuk meminjamnya agar bisa menghubungiku.
5. Dari kejadian ini aku mendapat pelajaran bahwa dalam mengendarai mobil jangan menyetel tape terlalu keras sehingga pendengaran kita masih bisa mengontrol situasi mobil dan jalanan serta bersikaplah tenang dalam mengemudikan mobil.

ASTUNGKARA....................................................


Lulus Seleksi APDN Mataram

Kejadian ini aku alami sekitar tahun 1988, dimana waktu itu aku baru menamatkan pendidikanku di tingkat SMA dan melanjutkan ke tingkat Perguruan Tinggi dalam rangka merintis masa depan sebagaimana yang aku cita-citakan.

Aku mengikuti ujian penerimaan mahasiswa baru pada 3 Perguruan Tinggi, yaitu Universitas Udayana, Universitas Warmadewa dan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Mataram. Yang sangat menarik untuk aku ceritakan disini adalah perjuanganku untuk diterima kuliah di APDN Mataram.
APDN adalah sekolah kedinasan yang baru kali ini aku kenal sebagai sekolah Calon Camat. Orang-orang yang kuliah disana adalah anak-anak pejabat atau keluarga atau relasi pejabat sehingga proses penerimaannyapun sarat dengan nuansa KKN. Aku sendiri mendengar informasi penerimaan calon mahasiswa APDN ini dari seorang temanku yang juga termasuk dalam katagori relasi pejabat, dan menawari aku untuk ikut seleksi (tidak aku ketahui apakah tawarannya tulus atau tidak) meskipun sebenarnya aku sangat pesimis untuk bisa lolos seleksi yang katanya sangat ketat dan sarat KKN. Aku mencoba konsultasi dengan bapakku dan respon bapakku diluar dugaanku yaitu cukup positif dan mendukungku untuk ikut seleksi. Dukungan yang didasari hati yang tulus dan lugu yaitu coba-coba saja, siapa tahu ada jodoh , toh tidak keluar biaya dalam arti uang karena semua digratiskan.

Meskipun peluang untuk diterima sangat tipis mengingat aku bukan dari kalangan keluarga atau relasi pejabat, dan kebetulan persyaratan yang diminta sebagian besar sudah aku miliki tinggal melengkapi dua buah surat yang disanggupi oleh bapakku untuk mengurusnya Aku memang tidak terlalu berambisi tetapi dalam hati kecilku aku berharap aku bisa memenuhi harapan orang tuaku lulus seleksi karena kalau aku kuliah disana maka beban orang tuaku membiayaai aku sekolah menjadi berkurang, setelah tamat tidak bingung mencari kerja karena saat kuliah sudah dijadikan PNS dan sambil sekolah juga dapat gaji.

Kalau menengok jauh kebelakang, keluargaku juga ada darah pamong praja karena salah satu Kumpi keluargaku pernah menjadi Kepala Desa. Sehingga aku berharap dalam do’a-ku setiap hari aku berharap kiranya Ida Sanghyang Widhi dan Ida Leluhur Betara Jro Gede menjadikan aku sebagai penerus darah pemimpin leluhurku dan membantuku agar bisa lolos seleksi dan diterima sebagai mahasiswa APDN. Setiap hari bahkan setiap saat aku selalu berdo’a memohon kepada Ida Leluhur untuk diberi kemudahan dan kelulusan. Hanya itu yang bisa aku lakukan karena aku sangat-sangat menyadari kekuranganku baik sekala maupun niskala.

Tahap demi tahap test seleksi penerimaan calon mahasiswa Ikatan Dinas pada APDN Mataram ku jalani. Dari test awal aku lihat, aku dengar akan kebenaran isu KKN dan isu anak pejabat dalam proses tersting tersebut. Semua itu kujadikan cambuk untuk memperkuat dan membulatkan tekatku untuk lulus dan menjadi mahasiswa APDN. Terlebih lagi setelah aku mengalami kecurangan dari teman-temanku seperjuangan yang semula berkata bahwa kita sama-sama berjuang tanpa ada relasi pejabat tertentu. Aku merasa ditikam dari belakang ketika tahu bahwa orang tua temanku kasak-kusuk mencari rekomendasi kelulusan pada seorang pejabat Pemerintah Propinsi Bali dan yang lebih menyakitkan aku melihat, mendengar dengan mata dan telingaku sendiri ada peserta seleksi yang sudah tidak lulus pada tes awal kemudian muncul lagi ikut pada seleksi berikutnya.

Tekatku sudah bulat aku harus lulus, aku yakin diantara calon mahasiswa yang lulus nantinya ada diantaranya yang lulus murni tanpa katrolan pejabat dan calon mahasiswa itu adalah AKU, AKU HARUS MEREBUT TIKET ITU DENGAN KEMAMPUANKU DAN DO’A-DO’A-KU. AYO KITA BUKTIKAN AKU ATAU ORANG-ORANG KATROLAN ITU YANG AKAN MENJADI PEMENANG.............

Begitu membaranya semangat dan tekatku yang selalu aku ungkapkan dalam do’a-do’a-ku mengantarkan aku melewati tahap-demi tahap seleksi sampai akhirnya aku dinyatakan lulus dan diterima sebagai Calon Mahasiswa APDN Mataram.

Aku merasa gembira dan bangga ternyata do’aku terkabulkan. Aku telah berhasil membuktikan bahwa perjuanganku dengan tekat dan do’a kepada Ida Sanghyang Widhi dan Ida Leluhur telah mengalahkan orang-orang yang mungkin telah menyepelekan kekuatan yang tidak terlihat dari Ida Sanghyang Widhi/Ida Leluhur sehingga lupa diri, lengah dan sombong karena merasa sudah ada pejabat yang merekomendasikan untuk kelulusannya. Mereka tidak menyadari bahwa banyak orang juga telah mengantongi rekomendasi itu sehingga tetap harus berjuang dengan kemampuannya sendiri untuk mendapatkan nilai plus diantara yang sudah dapat rekomendasi tersebut.

ASTUNG KARA....................................


MISTERI DI BALIK GAMBAR SRI KRESNA

Ketika anak ke-dua aku lahir, aku membeli sebuah gambar Sri Kresna sewaktu masih kecil. Sepertinya aku terobsesi suatu saat anakku tumbuh dan berkembang layaknya mewarisi sifat-sifat ke-dewataan Sri Kresna. Aku pajang gambar tersebut di kamat tidur, dimana aku, istriku dan anakku yang ke-2 istirahat tidur. Seringkali disaat menjelang tidur aku pandangi gambar tersebut dan kemudian kupandangi anakku yang telah tertidur seakan-akan aku telah membandingkannya.

Suatu ketika, gambar Sri Krisna waktu anak-anak terjatuh dari gantungannya dan kaca piguranya pecah. Tanpa ada perasaan apa-apa gambar itu aku ambil dan aku amankan diatas lemari sampai akhirnya ketika aku mengadakan bersih-bersih kamarku, gambar tersebut aku keluarkan dan aku taruh sembarangan di Gudang.

Pada suatu waktu, anakku yang ke-2 yang baru kelas 1 Sekolah Dasar mengalami masalah yaitu tidak mau sekolah lagi. Ia sepertinya takut mengikuti kegiatan belajar disekolahnya. Pinginnya ditungguin/dijagain. Hal ini membuat aku dan ibunya kerepotan. Kami mencoba mencari tahu jangan-jangan ada teman sepermainan disekolahnya yang mengancam anakku sehingga ketakutan seperti ini. Penelusuran kami membuahkan hasil negatif. Tidak ada satupun teman-temannya yang menyakiti anakku, Cuma kata teman-teman sekelasnya, anakku itu pernah jatuh waktu bermain. Apa iya sich Cuma karena terjatuh membuat anakku trauma tidak berani disekolah.

Sempat beberapa minggu ibunya menunggui anakku sekolah. Dan juga disaat aku tidak ngantor (hari Sabtu) aku kebagian untuk menjaganya. Lama-lama malah ibunya yang malu karena ada gurunya yang menyarankan agar tidak usah ditunggui dan menyerahkan anakku sepenuhnya untuk dijaganya secara paksa. Hal ini membuat kami serba salah dan merasa kasihan melihat anakku yang ketakutan sekali setiap kali menginjakkan kaki di kelasnya.

Secara persuasif yaitu dengan bujukan dan rayuan (malah dengan iming-iming dibelikan sesuatu yang diinginkannya seperti membeli sepeda federal) diupayakan, tetapi tidak mampu merubah keadaan itu. Saat dirumah anakku betul-betul serius untuk belajar disekolahnya. Tetapi ketika sampai didepan kelasnya ia kembali ketakutan.
Aneh memang sampai-sampai akhirnya aku minta bantuan para normal untuk membantu mengatasi masalah anakku. Semua petunjuk para normal aku ikuti tetapi tidak membuahkan hasil. Setiap sembahyang aku panjatkan do’a mohon tuntunan Ida Sanghyang Widhi dan Ida Leluhur agar anakku pulih rasa percaya dirinya sehingga bisa bersekolah seperti sedia kala.

Saat kutermenung memasrahkan diri akan masalah yang dialami anakku, ingatanku melayang pada gambar Sri Krisna kecil yang terongok di gudang seperti sampah. Hatiku terketuk untuk segera mengambilnya dan membersihkannya untuk selanjutnya bisa kupajang kembali. Aku merasa telah melakukan kesalahan karena telah membuang sembarangan gambar Sri Krisna kecil. Dan aku merasa yakin setelah menyelamatkan gambar ini dan memajangnya di tempat yang terhormat akan mengemalikan rasa percaya diri anakku sehingga dapat mengikuti pelajaran disekolah seperti teman-temannya yang lain.

Antar ya dan tidak, aku sendiri telah membuktikannya. Sejak hatiku terketuk untuk menyelamatkan gambar Sri Krisna kecil, anakku berangsur-angsur mulai menampakkan perubahan yang bagus. Ia mulai bergairah untuk sekolah dan meminta supaya tidak ditunggui lagi. Aku bersyukur akan perubahan ini. Dan kini gambar Sri Krisna kecil terpajang kembali di kamar tidurku dan setiap menjelang tidur aku pandangi dan dia tersenyum kepadaku.
Astungkara................................................................

04 Maret 2009

Do'a-ku :" semoga dihindarkan dari hal-hal yang tidak aku inginkan"

Ketika aku renung-renungkan ternyata setelah dinyatakan lulus dan diterima sebagai Mahasiswa APDN dan mungkin jauh sebelum aku dinyatakan diterima sebagai Mahasiswa APDN, banyak pengalaman menarik yang aku alami, yang menurut penilaianku terjadi karena ke-MAHA PEMURAHAN IDA SANGHYANG WIDHI DAN IDA LELUHUR. Penilaianku tersebut dikarenakan do’a - do’a-ku "SEMOGA DIHINDARKAN DARI HAL-HAL YANG TIDAK AKU INGINKAN" tanpa aku sadari terjadi/aku alami. Diantaranya dapat aku ceritakan sebagai berikut :

Saat Ospek dan Latsarmil di APDN Mataram. Tak satupun Senior-seniorku yang aku kenal. Beda dengan teman-teman seangkatanku lainnya yang sebagian besar punya kenalan, entah itu sebagai kerabat keluarga, taman sekolah waktu SMA dan anak pejabat. Mereka semua ada yang mengurusi.bahkan diperlakukan istimewa oleh seniornya. Sementara aku yang tidak punya kenalan hanya bisa berharap dengan do'a - do'a semoga semua senior menaruh iba dan memberi perhatian terhadapku.
Dan harapanku ternyata benar-benar terkabulkan. Sungguh tak kuduga, mereka semua memperlakukan aku sebagaimana harapanku. Di saat-saat dahaga senior yang mencoba memberikan kenalannya air maupun es yang sangat berharga dan berarti disaat seperti itu, ternyata nyampai juga kepadaku. Disaat kelaparan, aku juga kebagian rejeki dari senior yang tidak ku kenal dengan memberiku sepotong roti yang sangat terasa luar biasa enaknya.
Begitu pula disaat aku terkena hukuman mereka memperlakukanku sangat wajar tidak seperti temanku yang lainnya, yang sama sepertiku, tidak ada yang mengenalinya. Mereka sering diperlakukan berlebihan, dipermainkan dan digojlok habis-habisan. Aku bersyukur, mereka tidak ada yang berani menggodaku.
Bahkan disaat-saat aku mengikuti kegiatan yang ada ancaman hukuman, dan aku merasa tidak siap dihukum atau takut dihukum (karena sering diperlakukan kurang ajar dan berlebihan), sesuatu yang tidak terduga sering terjadi, misalnya waktu kegiatan sudah habis sehingga aku tidak sempat menjalani hukuman. Bahkan ada kejadian yang pas waktunya sudah habis saat aku hampir terkena hukuman sehingga aku terhindar dari yang tidak aku inginkan.
Demikian juga disaat perkuliahan, saat aku harus tampil mempresentasikan karyaku dan aku merasa tidak siap untuk mempresentasikan karyaku karena aku merasa masih banyak kurangnya yang harus aku lengkapi sehingga layak dipresentasikan, aku juga sering dihindarkan dari hal yang tidak aku harapkan/inginkan meskipun menurut undian atau giliran yang sudah diacak atau diatur sedemikian rupa aku harus tampil mempresentasikannya. Dalam Kasus seperti ini Kejadiannya hampir sama dengan yang kualami diatas yaitu saat aku akan mendapat giliran tampil, waktu sudah habis. Atau saat aku akan dapat giliran, dosennya tidak diduga memberi apresiasi yang memakan waktu cukup banyak terhadap penampilan temanku dimuka sehingga waktunya habis. Atau saat aku akan mendapat giliran, urut-urutan yang semestinya sampai padaku tahu-tahu berubah sehingga untuk hari itu waktu kegiatan presentasi habis dan akhirnya ada waktu bagiku untuk melengkapi karyaku.
Dari kejadian-kejadian yang aku alami yang sebagian aku ungkapkan diatas, aku merasakan bahwa Ida Sanghyang Widhi dan Ida Leluhur memang maha pemurah, Astungkara………………………………………………………………………….

26 Februari 2009

Prakata


Sejak melakoni kehidupanku di alam fana ini mungkin ini adalah kali pertama-ku sadari dan aku rasakan bahwa ada kekuatan yang luar biasa diluar nalar dan kemampuan manusia yang sering berperan dalam kehidupan ini. Sayangnya tidak banyak orang yang tahu dan menyadarinya karena kebanyakan orang sering terjebak dengan kata-kata yang mempunyai arti yang nyata sebagaimana yang diucapkannya.
Salah satu contoh dalam berdo’a atau bersembahyang, orang sering memohon agar dianugrahkan rejeki. (meskipun agama tidak mengajarkan demikian). Karena apa yang diiharapkan dalam do'a tidak sesuai dengan kenyataan, orang akhirnya beranggapan dan mengatakan bahwa Tuhan/Ida Sanghyang Widhi tuli tidak bisa mendengar rintihan orang-orang yang selalu mengingatnya dengan sembahyang sesering mungkin bahkan ada dengan aturan/peperanian yang termasuk boleh dibilang waaah… namun tidak pernah dalam hidupnya mendapatkan rejeki sebagaimana yang diinginkannya yaitu berupa uang yang berlimpah, padahal sesungguhnya dan tanpa disadari orang, Tuhan/Ida Sanghyang Widhi sudah mengabulkan do'a orang dalam bentuk lain yaitu kesehatan .........mungkin ? atau mungkin sering ditraktir orang makan sehingga sering makan gratis.
Hal inilah yang baru aku sadari sehingga terdorong hatiku untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan dengan berbagai judul sesuai dengan kejadian yang aku alami dengan harapan bisa menjadi cermin bagi diriku sendiri sehingga bisa mempertebal keyakinanku akan adanya Hyang Widhi atau mungkin cermin bagi orang lain (kalau mungkin).
Yakinlah...............................sesungguhnya.............. Tuhan/Ida Sanghyang Widhi /Ida Leluhur Maha Pemurah.