Tampilkan postingan dengan label TUTUR TINULAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUTUR TINULAR. Tampilkan semua postingan

27 Mei 2016

KISAH NYATA : Kisah Sedih Roh Roh Pak Made Yang Meninggalkan AGAMA HINDU Karena Cinta Buta


Oleh: Raras Sani
Sebagai individu yang berumat Hindu, saya akan memposting cerita yang berkaitan dengan agama Hindu. Kebetulan ayah saya mempunyai buku yang berjudul Suara Hindu dari Internet AGAMA HINDU DARI, UNTUK DAN OLEH ORANG MUDA.
Waktu ingin baca-baca buku, tidak sengaja saya melihat buku tersebut dan tertarik untuk membacanya. Kebanyakan isinya memang berbagai opini-opini dari masyarakat Hindu. Tapi mereka juga menceritakan beberapa cerita atau kisah nyata yang pernah dialami oleh salah seseorang tetangganya.
Sekarang saya ingin memposting kisah nyata tersebut yang diceritakan oleh Ngakan Made Putu Putra.
KISAH SEDIH ROH PAK MADE
Pada saat ini di beberapa daerah di Bali sedang dilakukan upacara Ngaben (upacara pembakaran mayat yang biasa dilakukan oleh umat Hindu). Ada sebuah kisah seorang yang kini ikut di abenkan. Kisah ini saya dengar dari saudara istri saya di Klungkung.

22 Agustus 2013

KISAH 3 ORANG TAMU

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.

Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”

03 Desember 2012

Kisah Dua Ekor Ikan dan Seekor Kodok




Di sebuah kolam yang indah, hiduplah dua ekor ikan namanya Shatabudhi dan Sahasrabudhi. Mereka menjalin persahabatan dengan seekor kodok bernama Ekabudhi. Ketiga hewan tersebut biasanya melewatkan waktunya bersama-sama di tepi kolam membicarakan tentang filsafat.
Pada suatu malam ketika mereka begitu sibuk dengan percakapannya, beberapa nelayan lewat sedang membawa keranjang di atas kepala mereka dan jala ditangannya. Ketika sampai di kolam itu, mereka berkata satu sama lainnya.
“Di kolam ini kelihatannya banyak ikannya. Disamping itu airnya tidak begitu dalam. Ayolah kita datang kemari besok pagi dan melemparkan jaring kita.”

01 Maret 2012

KISAH SAUDAGAR TUA DAN PENGEMIS MUDA…………

Disuatu pagi yang cerah, seorang saudagar tua sedang bersantai ria menikmati suasana pagi ditaman depan rumahnya yang megah bak sebuah istana sambil membaca Koran dan dihadapannya tersedia sebuah meja dengan sarapan pagi berupa teh poci hangat dan pisang goreng kesukaannya. Pada saat bersamaan tanpa sengaja lewat  seorang pemuda berpakaian lusuh dan kumal dengan wajah mengiba menyapa saudagar tua tersebut. “Tuan, kasihanilah saya..berilah saya makan tuan,” rengek pemuda itu. Mendengar sapaan tersebut Saudagar tua tersebut menghentikan baca korannya. Dilihatnya sumber datangnya sapaan tersebut. Seorang pemuda berbadan sehat dan bugar  terbungkus pakaian kumal dan lusuh dan raut wajah tampan diselimuti mendung kemurungan penuh penderitaan.
“Kasihanilah saya tuan…. Berilah kami sedekah”, kembali  pemuda tersebut menyampaikan permintaannya ketika saudagar tua tersebut memandangnya.
“anak muda,…kemarilah duduklah disebelahku dan mari sarapan teh hangat dan pisang goreng bersamaku, kata saudagar tua dengan bijaknya. Pemuda tersebut mulanya ragu mendengar tawaran Saudagar tua tersebut. Tumben ada seorang saudagar bijaksana menawarinya sarapan bareng. Tidak mungkin, dia seorang saudagar dan aku seorang gelandangan pikirnya. Namun ketika saudagar itu memintanya untuk kedua kalinya, akhirnya dengan malu-malu pemuda gelandangan tersebut menghampiri saudagar tua dan duduk dilantai taman.
“minum dan makanlah sarapan ini buat mengganjal perutmu anak muda”, kata saudagar tua sambil menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng.  Pemuda tersebut dengan kepala tertunduk  malu meminum dan memakan sarapan paginya.  Pengusaha  tua penasaran, apa gerangan yang membuat si pemuda tampak lesu dan rendah diri. 
“pagi ini cuaca begitu cerah, udara begitu segar dan burung bernyanyi dimana-mana. Lihat betapa indahnya dunia ini. Tapi mengapa engkau tampak bersedih dan murung anak muda ? apakah kamu sedang ditimpa masalah ?” kata saudagar tua mengawali perbincangannya dengan si pemuda.
Pemuda tersebut  menggelengkan kepala, dan menjawab, “Tuan bagiku pagi hari ini sama saja dengan hari-hari kemarin. Membosankan  dan menyedihkan”.
“Mengapa begitu anak muda ?”,  selidik Saudagar tua
“Saya ini orang miskin dan nasibku selalu jelek. Jangankan rumah untuk tempat tinggal,  pekerjaanpun tidak punya, untuk makan pun saya kesulitan. Bagaimana saya tidak bersedih  ?”, anak muda itu menjelaskan.
Mendengar pengakuan pemuda itu,  Saudagar tua itu tersenyum bijak. “hem…. Anak muda, seharusnya kamu tidak perlu bersedih seperti itu. Justru sebaliknya  kamu harus bangga dan gembira karena sesungguhnya kamu orang yang sangat kaya..”
Pemuda itu terhenyak. “apa tuan bilang ?  Saya ini sangat kaya ? Tuan…., tolong tuan jangan permainkan saya!” ujar si Pemuda kesal.
“Ha..ha..ha.. jangan marah-marah dulu anak muda. Akan kubuktikan apa yang kukatakan bahwa sesungguhnya kau adalah orang yang kaya raya,” ungkap saudagar tua.
“Anak Muda, jawab pertanyaanku…. Seandainya aku bayar kamu 10 juta rupiah , maukah kamu menukar kesehatan badanmu, dan besok kamu menderita sakit – sakitan ?
Mendengar penawaran si saudagar tua, anak muda tersebut dengan tegas menjawab, “saya tidak mau…!”  
“Baiklah, bagaimana kalau aku naikkan penawaranku. Jika aku bayar lagi 20 Juta rupiah, maukah kau menukarkan keremajaanmu dan besok kau berubah menjadi tua sepertiku..?”
“Gila… masak masih muda begini disuruh jadi tua seperti kakek-kakek ?  Tidak tuan, saya tidak mau….. !”
“Jika aku tambahkan lagi 30 Juta rupiah, maukah kau menukarkan ketampanan wajahmu dan besok kau berubah muka menjadi orang jelek dan menyeramkan …?”
Tanpa berpikir panjang pemuda tersebut menjawab, “Saya tidak mau…!”
“Hebat….aku tambah lagi ! sekarang aku tingkatkan lagi. Aku tambahkan bayaranku lagi 40 juta rupiah! Nah, maukah kau menukar kebijaksanaanmu dan besok kamu berubah menjadi orang bodoh dan idiot ?”
“Tidak mau…! Buat apa hidup kalau tidak punya otak ? Tidak…..tidak tuan!”
Saudagar  tua kelihatan semakin tertantang untuk memberikan pelajaran kebijaksanaannya. “Baiklah, ini penawaran terakhir. Dari semua jumlah penawaranku tadi, aku tambahkan 50 juta rupiah lagi! Dan…maukah kau menukar nuranimu sehingga besok kau boleh mulai menipu dan membunuh orang sesuka hatimu..?”
“Gila…! Tuan, saya bukan orang seperti itu. Saya masih punya harga diri dan hati nurani. Saya tidak mungkin menerima tawaran Tuan. Tidak…. Sekali lagi tidak…!” kata pemuda itu.
“Nah, anak muda…aku sudah menawarkan kepadamu total 150 juta rupiah! Itu jumlah yang sangat-sangat besar. Tetapi, tetap saja tidak satu pun dari dirimu yang bisa aku beli. Berarti, apa yang kau miliki dan tidak mau kau jual tadi pasti merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Sesungguhnya kekayaan yang melekat pada dirimu memang nilainya jauh melebihi 150 juta rupiah. Itulah modal dan kekayaanmu yang sesungguhnya. Nah..anak muda, aku sudah buktikan bukan, bahwa kamu memang kaya. Maka mulai saat ini juga, berhentilah meratapi nasib dan mulailah berusaha !” kata saudagar tua. Mendengar nasehat tersebut, anak muda tadi seketika tersadar. Ia pun segera bangkit dan berucap, “Tuan, terima kasih atas penawaran kebijakanmu. Beberapa pun yang Tuan tawarkan, saya memang tidak akan mau menukar apa pun yang saya miliki. Saya   malu dan menyesal telah menyia-nyiakan masa muda saya dengan selalu murung, menyesali nasib dan malas berusaha.  Ternyata saya bukanlah orang miskin. Saya punya modal yang cukup. Saya berjanji untuk mempertahankan modal ini, tidak mengeluh lagi, tidak menyesali nasib, dan akan rajin berusaha untuk menambah kekayaan saya. Sekali lagi terima kasih, Tuan!” dan anak muda itu segera bergegas pergi untuk memulai lembaran hidup baru.

Demikianlah sesungguhnya potensi diri dan kehidupan kita saat ini tentulah memiliki nilai yang jauh lebih berharga jika dibandingkan harta kekayaan, seberapapun  besarnya harta kekayaan tersebut. Sebab, selama kita masih mempunyai kehidupan, punya akal budi, kebijaksanaan, tubuh yang sehat, dan hati nurani yang bersih, maka apa pun yang kita inginkan suatu hari nanti pasti dapat kita raih. Asal kita mau bekerja keras dan berjuang dengan sepenuh hati untuk mencapainya.
Modal yang ada  di dalam diri kita itulah kekayaan yang sejati. Jika kita mengabaikan modal itu dan hidup kita terpuruk, maka salah besar kalau kita salahkan nasib. Apalagi menganggap Tuhan tidak adil. Jadi , jangan sia-siakan waktu hanya untuk berkeluh kesah dan meratapi nasib jelek. Perubahan nasib ada ditangan kita sendiri. Yang pasti, Tuhan akan memberikan jalan kepada mereka yang berjuang keras untuk memperbaiki kehidupannya.

Inspiration from 18 Classical Motivation Stories   AW

04 Februari 2012

BERGURU PADA LABA-LABA


Seorang siswa bertanya kepada  gurunya. “Guru, kita teramat sering merasa frustasi dan kecewa apabila apa yang kita rencanakan ataupun kerjakan mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan  harapan.  Apa yang harus diperbuat apabila kegagalan menghadang kita?”,  
“Anaknda yang budiman, untuk menjawab pertanyaan anaknda, guru punya sebuah cerita. Cobalah anaknda simak dan  resapi untuk menemukan jawabannya,” kata gurunya.
“Anakku, tersebutlah  ada seorang pemuda yang punya cita-cita menjadi seorang Punggawa Kerajaan. Untuk mewujudkan cita-citanya, pemuda tersebut telah mempersiapkan diri sejak anak-anak dengan belajar yang tekun dan penuh disiplin hingga sampailah saatnya dimana ia harus mengajukan lamaran untuk dapat diterima sebagai punggawa kerajaan A. Ketika keluar ruangan pejabat personalia kerajaan kelihatan raut wajahnya agak bersedih. Dia terlihat berjalan dengan langkah lunglai  dengan kepala tertunduk lesu menuju sebuah taman yang berada didepan istana kerajaan. Sebentar kemudian  ia terduduk di pojokan taman sambil  menghela napas panjang. Kegiatan itu diulangnya berkali-kali, seakan dia tidak tahu apa yang semestinya diperbuat.
Dalam lamunnya ditengah kekecewaan hatinya, tanpa disengaja  pandangan matanya tertuju pada  seekor laba-laba yang sedang  membuat sarangnya diantara ranting sebatang pohon tempat   duduk si Pemuda. Dengan perasaan kesal, si Pemuda menumpahkan kekecewaannya dengan merusak sarang laba-laba tersebut  menggunakan  sebuah ranting tanaman yang kebetulan ada didekatnya.
Dengan rusaknya sarang laba-laba tersebut, seakan tersalurkan sedikit kekesalan si Pemuda tersebut. Pemuda tersebut terus mengamati ulah laba-laba yang rumahnya baru saja dirusaknya. Dalam hati dia ingin tahu kira-kira apa gerangan yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya dirusaknya ? Apakah laba-laba akan pergi sejauh-jauhnya, atau  justru sebaliknya kembali untuk  membuat  sarang yang baru ? Rasa penasaran itu rupanya segera terjawabankan. Tak lama kemudian si laba-laba tampak kembali ke tempatnya semula. Laba-laba itu mulai  secara perlahan merayap-merajut sarangnya. Setiap helai benang dipintalnya  dari awal, semakin lama semakin lebar dan tanpa kenal  lelah hingga sarang barunya terselesaikan.
Memperhatikan ulah si laba-laba dengan semangat pantang menyerah membuat sarang yang baru , kembali ranting si pemuda beraksi   menghancurkan sarang tersebut untuk kedua kalinya. Dengan perasaan puas namun penuh rasa ingin tahu, kembali diamati ulah  si laba-laba setelah sarangnya dirusak untuk kedua kalinya?
Sungguh diluar dugaannya, ternyata, untuk ketiga kalinya, laba-laba mengulang kembali kegiatannya   dari awal. Dengan bersemangat laba-laba kembali merayap-merajut setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya  membuat sarangnya hingga selesai.
Melihat dan mengamati ulah laba-laba tersebut dalam membangun sarang yang telah hancur untuk ketiga kalinya, saat itulah si pemuda  sadarkan diri. Ternyata  berapa kalipun  sarang laba-laba dirusak dan dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. Semangat binatang yang begitu kecil dilihat dari ukuran tubuhnya ternyata  mempunyai  tekad yang kuat untuk selalu giat bekerja tanpa mengenal lelah, akhirnya telah  membuka kesadaran si pemuda.
Pemuda tersebut sepertinya merasa malu akan dirinya sendiri, kalah semangat dengan seekor laba-laba.    Hanya karena lamarannya ditolak kepala personalia kerajaan untuk pertama kalinya, membuat si pemuda frustasi berat  !  Melihat semangat pantang menyerah laba-laba, pemuda itupun berjanji dalam hati “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi! Berjuang dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali dari  setiap kehancuran!”  Segera si Pemuda bangkit dan bertekad kuat untuk berusaha  lebih giat lagi. Bila perlu, dia akan memulai dari awal lagi tanpa putus asa.
Demikianlah akhir cerita itu Anaknda, sesungguhnya mengalami kegagalan bukan berarti kita harus menyerah, apalagi putus asa. Sebab, sebenarnya dengan kegagalan itu berarti kita harus introspeksi diri dan berikhtiar lebih keras dari hari kemarin. kegagalan harusnya mulai kita pandang dari sudut yang berbeda.
Kita gagal bukan  berarti kita tidak sukses. Seperti kata pepatah yang  sering kita dengar : “Kegagalan adalah bagian kecil dari proses sebuah kesuksesan atau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”.
Kegagalan yang kita alami justru merupakan sarana menimba pengalaman dan sarana belajar untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan.
Selama kita masih memiliki tujuan yang menggairahkan untuk dicapai, tidak pantas kita patah semangat ditengah jalan. Pada kenyataannya tidak ada sukses yang tercipta tanpa melewati kegagalan.
Jangan takut gagal ! Siap bangkit! Raih Kesuksesan!
Mari berguru pada si Laba-Laba sebagaimana yang Guru ceritakan barusan.
Namaste.

07 Januari 2012

KISAH SEORANG IBU DENGAN PENGUSAHA ES DAN PENGUSAHA PAYUNG

Pada suatu hari seorang sisya bertanya kepada gurunya terkait dengan apa yang telah dialaminya dalam kehidupan bermasyarakat di desanya. “Guru, kehidupan manusia di dunia ini tidak terlepas dari yang namanya  rwa bhineda, baik-buruk, senang – susah, sedih – bahagia dam sebagainya. Bagaimana kita mengelola sesuatu yang tidak baik tersebut menjadi baik? Sang Brahmana tersenyum mendengarkan pertanyaan yang diajukan muridnya dan berusaha menjawabnya.
“anaknda, terkait dengan apa yang anaknda tanyakan, brahmana punya sebuah cerita yang mungkin bisa membantu anaknda mencari jawaban atas apa yang anaknda pikirkan. Diceritakan ada seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Karena ditinggal suaminya, ibu ini bersusah payah merawat dan membesarkan kedua putranya hingga tumbuh dewasa dan menjadi pengusaha yang sukses. Putranya yang sulung sukses menjadi pengusaha es dan putranya yang bungsu sukses menjadi pengusaha payung. Kesuksesan kedua putranya ini tidak serta merta membuat bahagia sang ibu.  Sang ibu yang sangat menyayangi kedua putranya ini tidak bisa melihat salah satu dari kedua putranya ini menderita. Karena itu sang ibu rajin sekali pergi ke Pura untuk bersembahyang mendoakan kedua putranya.
Di Pura sang ibu berdo’a sambil menangis sesengukan memohon agar anaknya dikaruniai rejeki. Hal ini menarik perhatian Pak Mangku pura untuk mengetahui lebih jauh terkait kesedihan sang ibu. Dengan perasaan iba Pak Mangku pura berusaha mendekatinya dan menanyai mengapa setiap sembahyang ke pura sang ibu selalu menangis. Adakah yang bisa saya bantu, kata pemangku pura.
Pak Mangku, saya mempunyai dua orang putra, kata Sang Ibu memulai ceritanya.  Yang sulung sebagai pengusaha es dan yang bungsu sebagai pengusaha payung. Ketika musim hujan putra sulung saya tidak bisa memasarkan es jualannya, sementara ketika musim kemarau putra bungsu saya tidak bisa memasarkan payung jualannya. Saya merasa sedih memikirkan kedua putra saya ini, kata sang ibu menjelaskan.
Setelah mendengarkan jawaban sang ibu tersebut, Pak Mangku terdiam sejenak kemudian berkata “ibu, disaat musim hujan cobalah ibu berpikir bahwa penjualan payung putra bungsu ibu laku keras sehingga dapat banyak uang dan bisa menabung untuk persediaan hidup dimusim kemarau tiba. Sementara disaat musim kemarau  bukankah pemasaran es putra sulung ibu laku keras sehingga dapat banyak uang dan juga bisa menabung untuk berjaga-jaga dimusim hujan tiba.   
Mendengar penjelasan Pak Mangku Pura, sang ibu bagai terjaga dari tidurnya. Dia baru menyadari akan kekeliruannya selama ini. Bukankah anak-anaknya telah menjadi pengusaha yang sukses. Karena itu kini setiap kali sang ibu sembahyang ke pura tidak lagi bersedih dan dalam do’a nya selalu bersyukur atas rejeki   yang telah dianugrahkan Ida Sanghyang Widhi kepada dirinya dan putra-putranya.
Anaknda, kebahagiaan dan penderitaan. Senang dan susah, gembira dan sedih yang dirasakan seseorang itu bisa berubah-ubah tergantung sudut pandang dan pikiran kita. Manusia memang kadang-kadang hanya melihat keadaan dari sisi yang negative dan yang merugikan saja. Akibatnya manusia menjadi lupa bersyukur dan menjadi korban dari cara pandang yang sempit dan dangkal. Segala sesuatu yang dipandang negative itu akan mempengaruhi pola pikir sehingga yang negative menutupi hasil lain yang lebih positif.
Kadang saat kita gagal kita lupa bahwa kita pernah berhasil. Hal inilah yang seringkali melemahkan mental kita. Kadang membuat kita tak bersemangat dalam hidup. Akibatnya masalah yag terkesan sepele menjadi terasa sangat berat. Kesalahan kecil yang seharusnya bisa segera diperbaiki justru menjadi berlarut-larut. Jika hal itu yang terjadi semangat luar biasa yang seharusnya bisa membangkitkan diri kita bisa tenggelam oleh pandangan yang salah tentang kehidupan ini.
Karena itu kita perlu mengubah pola pikir kita. Kita harus melihat dari berbagai sisi kehidupan. Bahwa roda kehidupan selalu berputar. Saat mengalami masalah atau kegagalan kita perlu mengingat masa dimana kita pernah berhasil. Dengan begitu, semangat kita akan terus menyala untuk membangkitkan diri kita dari keterpurukan mental.
Bila kita mampu melihat sisi yang positif dari setiap situasi yang muncul. Semua yang tadinya gelap bisa menjadi terang. Yang tadinya negative  akan berubah menjadi positif. Perasaan yang cemas dan gelisah akan berubah menjadi sesuatu yang menggembirakan sesungguhnya dalam menghadapi semua situasi yang berubah terus menerus, selama kita mamiliki kebijakan dan kekayaan mental dalam menghadapi semua itu niscaya kita akan menjadi pemenang yang sesungguhnya.

14 Desember 2011

SI ANAK ELANG



Diceritakan ada seekor ayam sedang mengeram telurnya.  Satu  diantara telur yang dieramnya tersebut ternyata adalah sebutir telur burung elang. Entah bagaimana ceritanya sampai telur elang tersebut bisa ada di kandang ayam . tidak ada yang tahu dan induk ayam itupun tidak pernah memasalahkannya dan tetap memperlakukan telur elang tersebut sebagaimana telurnya sendiri sampai akhirnya kesemua telur tersebut menetas. . Anak Elang yang menetas dari telur elang yang dieram induk ayam tersebut tidak menyadari dirinya sesungguhnya berbeda dengan anak ayam lainnya, namun karena merasa terlahir ditempat yang sama dengan eraman induk yang sama maka si Anak Elang itupun menjadi  terbiasa hidup seperti ayam pada umumnya tidak seperti burung elang yang punya kelebihan bisa terbang mengarungi angkasa raya  dan memakan daging.
Pada suatu hari ada seekor Elang Dewasa melihat keanehan tersebut, si Anak Elang bermain-main mencari makan dengan saudara anak ayam lainnya. Melihat kenyataan yang ada didepan matanya,   Elang Dewasa mendatangi Anak Elang tersebut dan berusaha untuk mengingatkan Anak Elang tersebut bahwa dirinya adalah seekor elang yang punya kelebihan bisa terbang kesana kemari mengarungi angkasa raya, bukan sebangsa ayam yang bisanya hanya berjalan mencari makan dari belas kasihan manusia. “Ayo ikut terbang bersamaku, duniamu bukan bersama ayam-ayam ini tapi diangkasa raya,” Lihatlah anak-anak ayam itu, kamu tidak sama dengan mereka,  lihatlah fisik kamu berbeda dengan mereka dan lebih   sama sepertiku,” kata Elang Dewasa berusaha mebujuk si Anak Elang.  
Berkali-kali Elang Dewasa mendatangi Anak Elang tersebut untuk mengingatkan si Anak Elang  agar segera kembali ke jati dirinya sebagai seekor elang namun berkali-kali pula si Anak Elang menolaknya karena ia merasa sudah sangat nyaman berada pada lingkungan ayam meskipun sesungguhnya keberadaannya tersebut telah menurunkan derajat kebinatangannya. Disamping itu juga si Anak Elang sudah merasa dirinya tidak mampu menjadi elang  serta selalu mengatakan dirinya tidak mampu terbang seperti Elang Dewasa.
Merasa ajakan si Elang Dewasa sudah tidak direspon lagi oleh si Anak Elang, maka dengan terpaksa Elang Dewasa menggunakan cara yang lebih keras untuk mengembalikan jati diri si Anak Elang yaitu dengan cara menyandra dan memaksa Anak Elang tersebut.  Pada suatu ketika rombongan si Anak Ayam bersama si Anak Elang mencari makan, Elang Dewasa dengan sigap menyambar si Anak Elang dan menerbangkannya untuk dibawa menjauh dari lingkungan ayam. Si Anak Elang meronta-ronta dan tanpa disadari pada ketinggian tertentu cengkraman si Elang Dewasa terhadap si Anak Elang lepas. Si Anak Elang terjatuh dari ketinggian  tersebut. Betapa takutnya si Anak Elang dan dalam ketakutan tersebut si Anak Elang mencoba mengepakan sayapnya dan……………. Luar biasa…..si Anak Elang tersebut ternyata bisa terbang. Tubuhnya melayang –layang bisa diarahkan kesana kemari sesuai dengan kemauannya. Si Anak Elang baru menyadari bahwa dirinya ternyata bisa seperti Elang Dewasa dan akhirnya meninggalkan kehidupan di dunia ayam yang selama ini dijalaninya.
Dari cerita singkat diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa :
Sering  orang tidak menyadari akan dirinya yang sesungguhnya memiliki kemampuan lebih dari apa yang disadarinya. Ketidak sadarannya tersebut sering kali diakibatkan karena telah dininabobokan oleh rasa nyaman yang   telah dinikmatinya. Karena telah berada didaerah kenyamanan ini umumnya seseorang cenderung enggan berusaha memaksimalkan potensi dirinya sehingga tidak berani untuk melakukan perubahan. Terhadap kondisi demikian ini seseorang cenderung harus dipaksa dihadapkan pada situasi ketidak nyamanan sehingga secara naluriah berusaha mengeluarkan  segenap kemampuannya untuk mengatasi ketidak nyamanan tersebut  dan disaat itulah orang baru menyadari bahwa dirinya punya sesuatu kemampuan yang lebih dari biasanya untuk berprestasi. Oleh karena itu marilah kita hadapi tantangan didepan kita janganlah menghindarinya.

12 September 2011

BRAHMANA DAN KALAJENGKING

Dalam kehidupan dimasyarakat sering kita melihat atau menyaksikan atau mungkin mengalami sendiri sesuatu peristiwa atau kejadian yang bertentangan dengan hati kita yang akhirnya membuat hati kita bimbang dan ragu untuk melaksanakan ajaran Dharma. Dalam kegalauan hatinya melihat phenomena kehidupan keseharian tersebut , seorang anak bertanya kepada Guru-nya. “Guru, apa yang harus kita lakukan kepada orang yang selalu berbuat jahat kepada kita meskipun kita telah berbuat baik dan benar kepada mereka?”
Sang Guru tidak serta merta memberikan jawaban, justru tersenyum dan dengan penuh kebijakan  berkata : “Anakku, guru punya sebuah cerita yang mungkin bisa membantumu menjawab apa yang baru saja anakku tanyakan”. Begini ceritanya :
Disebutkan pada suatu hari ada seorang Brahmana diiringi Sisyanya sedang berjalan dipinggir sebuah sungai sambil menikmati indahnya panorama aliran sungai dengan airnya yang bening. Tiba-tiba dilihatnya seekor kalajengking hanyut terbawa arus sungai. Karena sudah merupakan suatu kewajiban bagi seorang Brahmana untuk menolong mahluk yang memerlukan pertolongan, maka ditolonglah kalajengking yang hanyut terbawa arus sungai tersebut dengan tangannya. Namun apa gerangan yang terjadi ? Kalajengking yang sudah diselamatkan Sang Brahmana dengan tangannya ternyata malah menyengat tangan sang Brahmana sehingga membuat Sang Brahmana kaget dan kalajengking terlepas dan kembali hanyut terbawa arus. Meskipun tangan sang Brahmana telah tersengat kalajengking, namun  sang Brahmana terus berusaha untuk menyelamatkan kalajengking tersebut  dan begitu seterusnya setiap tangan sang Brahmana berhasil mengambil kalajengking, kala jengking tersebut kembali  menyengatnya sampai tangan sang Brahmana tersebut bengkak. Dengan ketetapan hati Brahmana tersebut menyelamatkan kalajengking  maka terselamatkanlah kalajengking tersebut dari arus sungai.
Sisya pengiring sang Brahmana itupun terheran melihat kejadian tersebut. Dalam hatinya berkata untuk apa sang Brahmana bela-belain menyelamatkan kalajengking tersebut sementara yang diselamatkan tidak tahu berterima kasih e…malah balik menyakiti.   Sisya inipun akhirnya menanyakan  mengapa gurunya (Sang Brahmana) menyelamatkan kalajengking yang jahat itu, yang tidak tahu berterima kasih, yang telah berkali-kali menyengat tangan Sang Brahmana hingga bengkak.
Sang Brahmana yang sabar itu dengan tersenyum  menjawab : “kalajengking berbuat jahat saja ia punya ketetapan hati, mengapa kita berbuat baik tidak punya ketetapan hati?”
Setelah mendengar cerita gurunya, anak tersebut termenung dan berusaha mengerti  dan memahami kalimat “kalajengking berbuat jahat saja ia punya ketetapan hati, mengapa kita berbuat baik tidak punya ketetapan hati?” Dalam hatinya berkata bahwa kita yang terlahir sebagai manusia yang diberi kelebihan akal pikiran hendaknya menyadari bahwa lahir sebagai manusia adalah sangat mulia dan hendaknya selalu sadar bahwa berbuat kebajikan kepada semua mahluk adalah merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Hendaknya kita memiliki ketetapan hati untuk melaksanakannya kalau menyadari apa yang dilakukan itu adalah baik dan benar.  Kalau menolong orang itu disadari sebagai suatu perbuatan yang baik dan benar,……… lakukanlah terus, jangan tergoda atau malah dikalahkan oleh orang jahat yang dengan ketetapan hatinya selalu menjahati kita.

18 Juni 2011

KISAH SEORANG BRAHMANA DENGAN SEEKOR KEPITING

Oleh : Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Sri Satya Jyoti

Tersebutlah seorang pendeta(Brahmana) sedang berjalan melintasi sebuah sungai yang kering karena musim kemarau yang panjang. Sang Brahmana yang berhati suci dan welas asih berjalan tertatih-tatih menuju pulang ke pesramannya. Ketika sedang melintasi sungai kering terlihatlah olehnya seekor kepiting yang sangat kurus kering dan hampir mati kelaparan, karena tiadanya air di sungai tersebut. Ketika sang Brahmana (Pendeta) melihat kepiting yang hampir mati tersebut, timbullah hati welas asihnya, dan kepiting itu dipungutnya dan dipindahkan. Setibanya sang Brahmana di Pesraman, maka kepiting yang dipungut di sungai kering, dimasukkan ke dalam telaga yang ber-air jernih yang berada di Pesraman Sang Brahmana.
Lama kelamaan, waktu telah berlalu dengan cepatnya, kepiting yang dulunya kurus kering kini sudah besar dan gemuk, karena ia cukup makan dan cukup air di telaga Sang Brahmana. Si kepiting sangat bersyukur karena atas bantuan Sang Brahmana ia tidak jadi  mati kelaparan, bahkan kini ia bisa hidup tenang dan bahagia.
Suatu hari sang Brahmana sangat kelelahan karena baru datang dari melaksanakan upacara untuk Ngelokapalasraya di desa seberang. Sang Brahmana mencari tempat yang teduh serta berbaring di Pesraman yang berada dipinggir telaga, karena kelelahan beliaupun akhirnya tidur pulas.
Tidak jauh dari tempat Sang Brahmana tidur tampaklah seekor ular besar yang bercakap-cakap dengan burung seekor burung gagak, merencanakan akan memangsa Sang Brahmana yang sedang tidur. Ketika kedua binatang itu sedang bercakap-cakap merencanakan untuk membunuh Sang Brahmana, terdengar oleh si Kepiting. Oleh sebab itu si kepiting mendatangi kedua binatang yang ingin membunuh Sang Brahmana, dengan pura pura mau ikut membantu membunuh sang Brahmana. Berkatalah si kepiting kepada ular dan burung gagak, “Hai sobat berdua, jika engkau mau membunuh Sang Brahmana, kita harus hati-hati, karena ia sangat lihai, akupun sebenarnya sedang menunggu kesempatan untuk membunuhnya”  kata  si Kepiting. “Kalau demikian  bagaimana caranya?” Tanya ular dan burung gagak.
Lalu si kepiting menjawab “hai sobat kita bertiga harus bersatu, tanpa itu kita tidak bisa membunuhnya”. Lalu apa yang harus kita lakukan ?” tanya si ular.
Begini kata si kepiting, “engkau ular dan gagak sama-sama menggendong ku karena engkau berdua dapat berjalan dengan cepat, sedangkan aku jalannya agak lambat,”kata si kepiting meyakinkan ular dan burung gagak. “oke” jawab ular dan gagak serentak.
Setelah ketiganya sepakat, kepiting dengan kedua japitnya berpegangan satu di leher burung gagak dan satu lagi dileher ular. Ketika ular dan burung gagak mulai bergerak, maka kepiting makin mengeraskan cengkeramannya di kedua leher binatang tersebut sehingga leher ular dan leher burung gagak putus bersamaan. Maka berkat kesetiaan  si kepiting, matilah si ular dan burung gagak yang jahat ingin membunuh sang Brahmana sehingga Sang Brahmana selamat dari kematian.
Itulah balas jasa kebaikan seekor binatang yang bernama kepiting terhadap manusia yang pernah menolongnya. Karena ia (si kepiting) merasa berhutang nyawa terhadap sang Brahmana saat ia hampir mati kelaparan dan kekeringan di sebuah sungai yang telah kekeringan.
Renungan :
Binatang saja tergerak hatinya untuk berbuat kebaikan, demi membalas budi kepada yang menolongnya. Maka manusia yang memiliki Tri Premana ( Bayu, Sabda dan Idep) sepatutnya lebih tersentuh untuk membantunya dan melindungi orang lain demi kebaikan, binatang bisa mengapa manusia tidak ? sesungguhnya lahir sebagai manusia adalah utama, karena memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan.
Dalam sloka sarasamuscaya 1:4 dan Sloka 1 : 6, berbunyi :
Apan ikang dadi wang, uttama juga ya, nimitaning mankana, wenang ya tumulung waknya sangkeng sengsara, makasahanang subhakarma, hinging kottamaning dadi wwang ika.
Artinya : sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu ia dapat menolong dirinya dari keadaan samsara dengan jalan karma yang baik, demikian istimewannya menjadi manusia.
Paramarthanya pengpengeta pwa ka temwaniking si dadi wwang, durlabha wiya ta, satsat handaning mara ring swarga ita, sanimittaning tan tiba muwahta pwa demelakena.
Artinya : tujuan terpenting, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan lahir sebagai manusia ini, sungguh sulit untuk diperolehnya, laksana tangga menuju surga, segala yang menyebabkan tidak akan jatuh lagi, itu hendaknya supaya dipegang.
Diambil dari kolom renungan pada harian Fajar Bali